Detik-detik Aksi Penyelamatan Juliana Marins

Sosial223 Views

Lombok, PBSN – Direk (anda) bise ndak lari 100 meter. Pasti ngos-ngosan. Lah, ini turun naik jurang 600 meter, bawa mayat lagi. Itulah yang dilakukan Agam dkk dalam aksi penyelamatan jenazah Juliana Marins, bule asal Brazil.

Tulisan saya kedua ini, mendeskripsikan detik-detik sang hero kita, Haris Agam menjemput tubuh yang tak bernafas lagi di jurang yang sulit dibayangkan. Kok, bisa ya. Mari simak lagi kisah Agam sambil seruput kopi tanpa gula agar otak tetap encer dan waras.

Di punggung Gunung Rinjani yang tajam dan penuh murka, angin tidak sekadar bertiup, ia melolong. Langit tidak hanya mendung, ia menggantungkan maut. Di sela-sela kabut pekat serta tebing setinggi neraka itulah, Agam Rinjani dan timnya melangkah menentang logika, menantang gravitasi, dan menggenggam sesuatu yang tak lagi bernyawa, kehormatan manusia.

Juliana Marins, pendaki asal Brasil, terjatuh ke jurang sedalam 600 meter. Bukan tiga meter, bukan dua puluh. Enam ratus meter. Dalam satuan rescue, itu artinya “doa saja tak cukup”. Lokasi jasad Juliana berada di dinding terjal, curam, nyaris tegak lurus, tempat batu pun enggan bersandar. Tapi Agam tak memilih logika sebagai pemandu. Ia memilih tali, anchor, nyali, dan prinsip paling purba dalam sejarah manusia, tidak membiarkan siapa pun tertinggal, bahkan dalam kematian.

Agam adalah bagian dari tim inti. Ia bukan anggota yang membantu dari bawah sambil menyeruput kopi. Ia orang pertama yang menjejakkan kaki di titik tubuh Juliana tergeletak. Ia turun dengan teknik vertical rescue, dengan tali menggantung dari anchor yang ditancapkan ke batu-batu setia. Di dunia modern yang gemar menyederhanakan segala hal, ia justru mengikat hidupnya sendiri di simpul-simpul nyawa yang bisa putus kapan saja.

Mereka tidak bisa menyelesaikan evakuasi dalam satu hari. Hari meredup. Gelap datang seperti tamu yang tak diundang. Mereka harus bermalam di sana, menggantung di antara langit dan neraka. Di sisi tebing. Di ketinggian 590 meter. Bersama jenazah. Tanpa alas tidur. Tanpa atap. Hanya tali, harness, dan kemauan baja yang memisahkan mereka dari kematian yang kedua. Mereka membangun flying camp, sistem penginapan ekstrem bagi jiwa-jiwa yang tak mengenal kenyamanan. Tali pengaman dipasang agar Juliana tidak tergelincir lebih jauh 300 meter ke bawah.

Malam itu, hujan deras. Tidak gerimis. Tidak syahdu. Ini hujan yang membawa batu-batu longsor dan menciptakan orkestra kematian. Longsoran terjadi berkali-kali, tak pandang jam. Agam dan tim harus tetap terjaga, berjaga agar nyawa mereka tak direnggut seperti Juliana. Suhu turun drastis. Dingin bukan lagi soal tidak nyaman, ia menjadi ancaman medis, hipotermia. Di sinilah, tubuh harus menjadi lebih dari sekadar daging, ia harus menjelma menjadi tekad.

Di Brasil, kabar ini viral. Warganya menyebut Agam sebagai “pahlawan dari Rinjani.” Tapi Agam tak merasa sedang menjadi pahlawan. Ia hanya menyampaikan maaf, karena tak bisa membawa Juliana turun dalam keadaan hidup. Dunia bisa melihat heroisme, tapi Agam melihat ketidakberdayaan yang ia hadapi dengan kehormatan.

Evakuasi ini bukan hanya operasi teknis. Ini bukan sekadar prestasi mountaineering. Ini adalah pelajaran paling agung dari dunia rescue, bahwa bahkan tubuh yang tak lagi bernapas pun layak dihormati. Di atas segalanya, ada etika. Ada keberanian. Ada kemanusiaan.

Di tebing Rinjani, sejarah ditulis bukan dengan tinta, tapi dengan peluh, darah, dan simpul tali yang mencekam batu. Karena sesekali, manusia tidak memerlukan dewa. Ia hanya perlu satu Agam dan seutas tali, dan dunia kembali mengingat artinya menjadi manusia.

Wajar apabila warga Samba menjulukinya Pahlawan Rinjani. Apa yang dilakukan Agam dkk memang di luar nurul. Salut dan hormat untuk Agam dan seluruh personel SAR. Kalian semua adalah pahlawan abad ini. Nama kalian akan selalu dikenang sebagai sosok paling berani, mempertaruhkan nyawa untuk kemanusiaan.

Rosadi Jamani