Aceh Kondusif, tapi Api Itu Belum Padam

Politik, Sosial24 Views

Aceh, PBSN – Kalau kalian nonton videonya betapa ironisnya. Merah putih diturunkan paksa lalu diganti bendera Bulan Bintang. Burung Garuda dicopot, diseret, lalu diinjak-injak. Aparat yang mau menaikkan lagi bendera merah putih dilempari. Lebih miris lagi, Kapolda Aceh pun diusir saat ingin menghadiri acara tersebut.

Situasi saat ini memang sudah kondusif, tapi api ingin merdeka belum sepenuhnya padam. Simak narasinya.

Di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, ribuan orang berkumpul untuk zikir dan doa bersama. Suasana semestinya khidmat. Lalu seseorang memanjat tiang bendera. Merah Putih diturunkan. Bukan sekadar diturunkan.

Ia kemudian digantikan dengan bendera Bulan Bintang, simbol sangat lekat dengan masa ketika Aceh masih berada dalam konflik bersenjata dengan pemerintah Indonesia.

Kemudian terdengar teriakan, “Merdeka!”

Seketika, sebuah tiang bendera seolah berubah menjadi tiang membawa kita mundur ke masa lalu. Aparat mencoba mengendalikan situasi. Tetapi batu mulai beterbangan. Botol melayang. Tembakan peringatan dilepaskan ke udara.

Water cannon dikerahkan. Gas air mata digunakan. Aparat yang sedang menjaga Merah Putih justru harus berlindung dari lemparan batu. Ini bukan adegan film. Ini terjadi di dunia nyata.

Akibat kericuhan tersebut, satu sepeda motor milik TNI terbakar, sejumlah kendaraan rusak, serta sejumlah warga dan personel mengalami luka.

Namun drama belum selesai. Massa kemudian bergerak menuju Pendopo Gubernur Aceh. Di sana, ornamen Burung Garuda dicopot dari atap. Bendera Merah Putih yang tersisa juga diturunkan. Lalu lambang Garuda sempat diseret dan diinjak-injak di jalan.

Nuan bayangkan. Garuda. Lambang negara. Diperlakukan seperti benda tak berharga. Padahal Garuda bukan sekadar ornamen. Ia adalah simbol negara seharusnya dihormati oleh siapa pun, di mana pun.

Ironinya semakin dalam karena semua ini terjadi tepat ketika Aceh sedang memperingati 21 tahun perdamaian. Seolah sejarah tiba-tiba bangun dari tidur panjang dan bertanya, “Apakah kalian benar-benar sudah berdamai?”

Pada saat situasi memanas, Gubernur Aceh Muzakir Manaf sedang berobat di Kuala Lumpur. Sementara Wali Nanggroe berada di Penang.

Di tengah kekosongan tersebut, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah berada di lapangan dan mengingatkan, tidak ada keuntungan dari keributan. Kita semua, katanya, adalah pelaku sejarah.

Sekitar lima orang sempat diamankan, kemudian dilepaskan kembali agar keadaan tidak semakin tidak kondusif. Polisi menyatakan situasi telah terkendali.

TNI menyayangkan kejadian tersebut dan mengimbau seluruh pihak menghormati simbol negara. Personel TNI juga dilaporkan telah menurunkan bendera Bulan Bintang dari tiang masjid.

Tetapi pertanyaan paling penting belum sepenuhnya terjawab, apakah Merah Putih sudah kembali berkibar di semua titik? Apakah Garuda yang dicopot sudah kembali ke tempatnya?

Yang lebih besar, apakah yang baru saja terjadi hanya kericuhan sesaat, atau sebuah alarm tidak boleh diabaikan?

Aceh sudah melewati lebih dari dua dekade perdamaian. Namun perdamaian bukan berarti sejarah otomatis mati. Luka bisa mengering, tetapi ingatan tetap hidup. Ketika simbol-simbol masa lalu kembali muncul di tengah kerumunan, sementara aparat dan warga kembali berhadap-hadapan, tentu wajar jika masyarakat merasa khawatir.

Sebab perdamaian bukan beton. Ia bukan tembok sekali dibangun lalu pasti berdiri selamanya. Perdamaian adalah jembatan. Ia harus terus dijaga. Satu batu mungkin hanya batu. Satu bendera mungkin hanya selembar kain.

Satu ornamen Garuda mungkin hanya benda di atas pendopo. Tetapi ketika semuanya terjadi bersamaan, pada Hari Damai Aceh ke-21, maknanya menjadi jauh lebih besar.

Kita tidak sedang mengatakan perang akan kembali. Jangan sampai. Justru karena tidak ingin perang kembali, tanda-tanda sekecil apa pun harus dibaca dengan kepala dingin. Sebab sejarah sudah memberi pelajaran. Perdamaian mahal jangan dipertaruhkan dengan emosi sesaat.

Hari itu Aceh tidak sedang membutuhkan perang baru. Aceh membutuhkan ketenangan. Membutuhkan kebijaksanaan. Membutuhkan keadilan. Membutuhkan semua pihak menahan diri. Karena setelah 21 tahun, pertanyaan paling menakutkan bukanlah siapa menang dalam kericuhan itu.

Pertanyaannya jauh lebih sederhana, jangan-jangan kita sedang menyaksikan sebuah retakan kecil pada dinding perdamaian yang selama ini kita kira sudah kokoh?

 

 

Rosadi Jamani