Sana’a, PBSN – Kalau mendengar Yaman, jangan sampai otak langsung menggambar Houthi, rudal, drone, perang, lalu selesai. Itu seperti melihat Indonesia hanya dari MBG dan Kopdes. Negara sebesar itu tentu lebih rumit dari perang Iran vs Amerika.
Yaman punya wajah lain. Hadhramaut. Wilayah inilah memiliki hubungan historis sangat kuat dengan diaspora Arab di Indonesia. Termasuk keluarga-keluarga keturunan Nabi yang dalam tradisi Indonesia banyak dikenal sebagai Habib.
Migrasi Hadhrami ke Nusantara berlangsung berabad-abad dan meningkat pada abad ke-19 karena perdagangan, mobilitas ekonomi, serta pencarian kehidupan baru.
Mereka datang membawa kapal. Sebagian kemudian membawa kitab. Sebagian membawa jaringan perdagangan. Sebagian membangun pesantren, masjid, dan komunitas.
Ada paradoks luar biasa. Dari tanah yang hari ini dikenal karena perang, pernah mengalir manusia yang ikut membentuk sejarah Islam Nusantara.
Hadhramaut melahirkan jalur migrasi jejaknya bisa ditemukan dalam banyak keluarga Arab-Indonesia, dengan marga seperti Assegaf, Al-Attas, Al-Jufri, Shihab, dan Al-Habsyi.
Namun perlu dibedakan, Hadhramaut bukan seluruh Yaman. Ini penting. Sebab menyebut seluruh Yaman sebagai “kampung halaman para Habib” terlalu menyederhanakan sejarah. Yang secara khusus memiliki hubungan kuat dengan diaspora Hadhrami adalah kawasan Hadhramaut.
Jejak hubungan Yaman dengan sejarah Islam Indonesia sering dikaitkan dengan tradisi Wali Songo, meskipun berbagai silsilah dan klaim genealogis mengenai tokoh-tokoh tertentu tetap menjadi wilayah yang diperdebatkan dalam kajian sejarah.
Sekarang kembali ke Houthi. Mereka bukan sekadar “Syiah yang dikendalikan Iran”. Iran memang memberikan dukungan kepada Houthi. Tetapi berbagai kajian menunjukkan hubungan tersebut tidak sesederhana hubungan atasan dan bawahan. Houthi memiliki kepentingan lokal, sejarah sendiri, struktur suku, serta kepemimpinan relatif otonom.
Kalau ada yang mengatakan, “Houthi itu Iran!” Sejarah menjawab, “Pelan-pelan, wak. Jangan semua punya rudal langsung dicari nomor telepon Teherannya.”
Houthi adalah gabungan panjang antara kebangkitan Zaidi, politik Yaman, jaringan keluarga al-Houthi, struktur suku, perang saudara, intervensi Saudi, dukungan Iran, dan pengalaman tempur. Nama resminya pun bukan Houthi. Mereka menyebut diri Ansar Allah, Pembela Allah.
Nama Houthi berasal dari keluarga pendirinya. Pemimpin utamanya kini adalah Abdul-Malik al-Houthi. Jadi, siapa Houthi? Mereka adalah gerakan politik-militer tumbuh dari sejarah Yaman utara dan kemudian berkembang menjadi aktor regional.
Mereka menguasai Sana’a dan wilayah luas di utara. Mereka memiliki kemampuan rudal dan drone. Mereka mempunyai jaringan mobilisasi yang besar. Posisi mereka di sekitar Bab el-Mandeb membuat pengaruhnya melampaui ukuran wilayah yang mereka kuasai.
Sementara itu, kontroversi terbaru mengenai Makkah harus dibaca hati-hati. Saudi menuduh ada drone yang diarahkan menuju Makkah. Houthi membantah. Iran malah menuduh Israel di belakang itu semua. Jangan langsung menjadi hakim internasional sambil ngopi tiga teguk.
Klaim tetap klaim. Bantahan tetap bantahan. Fakta harus menunggu bukti. Tetapi ada satu ironi besar. Yaman punya kopi dahulu menjadi komoditas berharga dunia. Saudi punya minyak menggerakkan ekonomi dunia. Kini dari kawasan yang sama, dunia sibuk menghitung rudal, drone, kapal, dan selat.
Dari gunung Yaman sampai gurun Saudi, sejarah seperti sedang memberi kuliah geopolitik gratis. Negara boleh kaya, kelompok boleh bersenjata, kerajaan boleh megah, tetapi ketika negara melemah dan konflik dibiarkan terlalu lama, gunung pun bisa belajar mengetuk pintu dunia.
Kalau pintu itu bernama Bab el-Mandeb? Wah, bukan cuma tuan rumah yang bangun. Satu dunia ikut terjaga. Begitulah cerita Houthi. Banyak musuhnya, tapi banyak juga pembelanya. Seandainya Yaman itu sepenuhnya dikuasai Houthi, bukan tidak mungkin nama Yaman berganti Republik Houthi. Mirip Kerajaan Saudi juga, ups. Cukup sekian, nantikan kisah menarik lainnya. Tamat.
Rosadi Jamani
