Beijing, PBSN – Kita jalan lagi ke China. Setelah Presiden AS, Donald Trump, giliran Rusia ikut ngesot ke negeri yang sering diplesetkan dengan Aseng. Ada berseloroh, China sah penguasa dunia saat ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Kita baru saja menyaksikan Donald Trump dan Vladimir Putin sama-sama datang ke Beijing menghadap Xi Jinping. Dua orang yang selama ini jualan citra “kami paling kuat sedunia” tiba-tiba antre di gerbang Forbidden City seperti tamu mau wawancara kerja. Ini bukan film Marvel. Ini kenyataan.
Trump datang dengan semangat “Make America Great Again” yang volumenya selalu setara toa si ratu demo, Tarwiyah. Ia membawa agenda dagang, Boeing, ekspor pertanian, perang tarif, stabilitas ekonomi. Harapannya agar China tidak makin brutal menyalip industri Amerika. Bahasa diplomatiknya memang halus, tapi aura aslinya kebaca jelas, “Bang Xi, jangan bantai kami pelan-pelan kali lah.”
Belum kursi pertemuan dingin, muncul Putin. Mantel tebal, wajah datar, tatapan bekas final boss Perang Dingin. Ia datang membawa mimpi besar bernama Power of Siberia 2. Pipa gas raksasa sepanjang 2.700 kilometer yang dirancang mengalirkan gas Siberia langsung ke perut industri China. Kapasitasnya? 50 miliar meter kubik per tahun selama 30 tahun. Angka yang kalau ditulis di kuitansi PLN mungkin bikin ibu-ibu pingsan sambil cari minyak kayu putih.
Dulu Rusia jual gas ke Eropa sambil gaya macam juragan sawit lagi panen raya. Sekarang setelah sanksi Barat menghajar ekonomi Moskow, Rusia malah duduk manis di depan Beijing menunggu keputusan akhir China. Di situlah letak komedi tragisnya, proyek sebesar itu tetap tergantung satu kalimat Xi Jinping.
“Ya nanti kami pertimbangkan.”
Sakit kali itu. Nuan bayangkan mantan preman terminal yang dulu bikin satu kota ciut, sekarang nunggu balasan chat sambil lihat tulisan “typing…” hilang muncul.
Sementara itu Xi Jinping benar-benar menikmati posisi paling absurd dalam sejarah modern. Kepada Trump ia bicara soal stabilitas global, kerja sama ekonomi, dan pentingnya perdagangan sehat. Kepada Putin ia bicara soal dunia multipolar, anti-hegemoni Barat, dan persahabatan tanpa batas. Satu tangan salaman kapitalisme, tangan lain pelukan geopolitik anti-Amerika. Ini bukan diplomasi lagi. Ini manusia karet internasional.
Amerika butuh pasar China. Rusia butuh uang China. Eropa ketergantungan rantai pasok China. Negara-negara Global South melihat Beijing seperti anak SMA lihat senior tajir yang bisa traktir satu kantin.
Xi tinggal duduk tenang. Senyumnya itu lho. Senyum orang yang tahu dua raksasa dunia sedang rebutan perhatian dia seperti peserta Indonesian Idol cari golden ticket.
Yang lebih lucu lagi, si Aseng belum sempurna. Properti mereka masih sempat oleng, populasi menua, anak muda susah kerja, dan militernya belum sebebas Amerika buat parkir kapal induk di mana-mana sambil sok jaga demokrasi. Tapi walaupun belum sempurna, China sekarang sudah berhasil jadi pusat gravitasi dunia.
Bukan Washington. Bukan Moskow. Tapi, Beijing.
Dunia sekarang bukan lagi bipolar, bukan multipolar. Ini dunia Beijing-sentris. Semua jalan ekonomi, energi, industri, dan diplomasi ujung-ujungnya muter ke sana. Trump datang bawa dagangan. Putin datang bawa gas. Bahkan banyak negara berkembang datang bawa mimpi ingin jadi “China berikutnya”, walaupun ujungnya baru mampu bikin gapura tulisan “smart city” dekat sawah.
Xi Jinping? Ia cuma duduk di kursi besar ala kaisar modern, menyeruput teh hangat, menyilangkan kaki, sambil melihat dua mantan penguasa dunia mondar-mandir di halaman istananya seperti orang rebutan colokan charger bandara.
Sungguh luar biasa ironis. Dulu orang bilang abad 21 akan jadi milik Amerika atau China. Ternyata jawabannya, Amerika masih galak, Rusia masih sangar, tapi yang pegang remote TV planet bumi sekarang diam-diam adalah Beijing.
Rosadi Jamani
