Foto Ai hanya ilustrasi
Natuna, PBSN – Gile bener kekayaan Bupati Natuna. Kekayaan Gubernurnya saja, jari kelingking. Sejak jadi penguasa Natuna kekayaannya berlipat-lipat.
Namanya, Cen Sui Lan. Lahir di Kuala Langkat, 11 Mei 1967. Ia muallaf lalu kemudian dikenal dengan nama Aisyah. Ia bukan tokoh fiksi, bukan pula karakter sinetron azab properti. Ia nyata. Pernah sekolah di Methodist Binjai, menapaki dunia bisnis sebagai CEO PT Asmaya Buana Nusantara, jadi komisaris di banyak perusahaan, lalu melenggang ke DPR RI, sebelum akhirnya dilantik jadi Bupati Natuna periode 2025–2030. Sebuah perjalanan karier yang kalau dijadikan film, penonton akan curiga ini terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Namun klimaks cerita ini bukan pada biografi, melainkan pada angka yang lebih dramatis dari gelombang karang Senua. Tahun 2023, berdasarkan laporan ke KPK lewat e-LHKPN, total kekayaan beliau berada di angka Rp1.112.082.000. Sederhana. Bersahaja. Dua bidang tanah di Batam senilai sekitar Rp950 juta, ditambah kas Rp162 juta. Tidak ada kendaraan. Nol. Seolah hidup dengan filosofi, “Jalan kaki itu meditasi, kendaraan itu distraksi.”
Lalu datanglah tahun 2024, dan semesta seperti menekan tombol turbo. Kekayaan itu melonjak menjadi Rp293.000.082.000. Naik sekitar Rp292 miliar. Bukan naik lagi ini, tapi meloncat seperti ikan tenggiri yang salah minum bensin. Jika digambar grafik, garisnya bukan menanjak, tapi menembus langit, minta izin parkir ke satelit.
Sumbernya? Tiga belas bidang tanah dan bangunan di Batam dengan nilai sekitar Rp283 miliar. Tiga belas bidang, luas puluhan ribu meter persegi, masing-masing bernilai puluhan miliar. Ini bukan lagi aset, ini sudah seperti kerajaan kecil yang kalau dilihat dari udara mungkin bisa bikin burung migrasi salah arah. Kas juga ikut naik signifikan, seolah ikut arus pasang Laut Natuna yang tak mau kalah dramatis.
Di sisi lain, berdiri Ansar Ahmad, Gubernur Kepri, dengan kekayaan sekitar Rp10,04 miliar. Angka yang sebenarnya sehat, stabil, dan masuk akal. Tapi ketika disandingkan, rasanya seperti sampan kayu melawan kapal pesiar. Selisihnya sekitar 29 kali lipat. Ini bukan perbandingan, ini sudah seperti legenda rakyat yang diceritakan ulang sambil ketawa kecil.
Yang lebih absurd lagi, dalam laporan tersebut, Cen Sui Lan tetap tidak memiliki kendaraan pribadi. Tidak ada mobil, tidak ada motor. Ini membuat publik membayangkan berbagai kemungkinan metafisik. Apakah beliau berjalan di atas sertifikat tanah seperti karpet Aladdin versi agraria? Atau mungkin angin Natuna yang mengantar beliau ke mana-mana? Ironi ini begitu indah, punya tanah luas seperti pulau, tapi tidak punya roda untuk mengelilinginya.
Secara resmi, semua ini sah. KPK mencatat, memverifikasi kelengkapan, lalu memajang data itu seperti lukisan modern. Bisa dilihat, bisa ditafsirkan, tapi tidak selalu dipahami. Tidak ada audit mendalam kecuali ada laporan lanjutan. Angka-angka itu berdiri sendiri, seperti Batu Sindu di Natuna yang kokoh, diam, tapi menyimpan banyak cerita.
Menariknya, saat pilkada dulu, beliau sempat disebut sebagai kandidat dengan harta paling rendah di Kepri. Sekarang justru menjadi yang tertinggi. Transformasi ini seperti ikan kecil di laut Natuna yang tiba-tiba berubah jadi paus biru yang besar, tenang, dan membuat semua kapal minggir tanpa disuruh.
Publik pun terombang-ambing seperti perahu kena angin silang. Ada yang percaya ini buah dari perjalanan bisnis panjang, dari jaringan organisasi, dari pengalaman sebagai pengusaha, dari relasi yang terbangun sejak lama. Ada juga yang menganggap ini strategi investasi tingkat galaksi, yang hanya bisa dipahami jika kita punya teleskop ekonomi. Sisanya? Mereka memilih menyeruput kopi, menatap laut, lalu berkata, “Realitas sekarang lebih liar dari imajinasi.” Atau, jangan..jangan…hem.
Pada akhirnya, kisah ini bukan sekadar tentang kekayaan atau jabatan. Ini tentang bagaimana angka bisa berubah jadi mitologi, bagaimana laporan resmi bisa terasa seperti cerita absurd. Bagaimana Natuna, dengan lautnya, batunya, dan anginnya, menjadi panggung bagi sebuah cerita yang membuat logika duduk di pojok, angkat tangan, lalu berbisik, “Saya ikut saja, yang penting jangan disuruh menghitung lagi.”
Rosadi Jamani
