Jakarta, PBSN – Pagi tadi kita bicara jilatan Menteri Pendidikan, Abdul Mu’ti. Gila respons netizen, dahsyat. Baca komentar, sampai tersedak nyeruput Koptagul. Kali ini, lebih dahsyat lagi jilatan seorang pembantu presiden. Sudah masuk kategori, jilatan tingkat dewa, udah tak ada tandingannya lagi. Simak narasinya.
Indonesia kembali mencatat sejarah. Bukan sejarah ekonomi. Bukan sejarah teknologi. Tapi sejarah perjilatan nasional yang levelnya sudah tidak bisa diukur memakai Richter Scale, melainkan harus memakai alat ukur milik NASA.
Baru dilantik sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh pada 8 Juni 2026, Said Iqbal langsung mengeluarkan jurus pamungkas yang membuat netizen tersedak kopi, jatuh dari motor, lalu bangun lagi hanya untuk memastikan berita itu bukan editan AI.
Dulu, setiap ada isu buruh, beliau muncul seperti Godzilla yang baru bangun setelah tidur 300 tahun. BBM naik? Demo. Upah seret? Demo. Pengusaha batuk? Demo. Angin bertiup dari arah yang salah? Hampir demo.
Pokoknya aura perlawanannya begitu kuat sampai pagar DPR punya PTSD setiap mendengar nama Said Iqbal. Tapi kini kita menyaksikan keajaiban yang bahkan Nabi Musa mungkin akan mengernyitkan dahi melihatnya.
Singa berubah jadi kucing. Harimau berubah jadi hamster. Toa demonstrasi berubah jadi pengeras suara karaoke keluarga. Lalu muncullah kalimat yang membuat internet mendidih seperti panci mi instan ditinggal emak ke warung.
Said Iqbal menyebut Prabowo memiliki kecerdasan setara Einstein. Setara Einstein!
Belum cukup sampai di situ. Katanya lagi, Prabowo membaca 50 buku sehari. Lima puluh buku. Per hari. Ya, Per Hari! Bukan 50 halaman. Bukan 50 tweet. Bukan 50 status Facebook yang isinya “selamat pagi semoga sehat selalu”. Tapi 50 buku.
Perpustakaan Nasional langsung minder. Kutu buku pensiun massal. Mahasiswa yang belum selesai membaca skripsinya sejak 2023 langsung merasa hidupnya gagal.
Sementara Einstein di alam sana mungkin sedang rapat darurat dengan Newton. “Bro, katanya ada yang IQ-nya setara saya.” Newton menjawab, “Santai. Katanya juga baca 50 buku sehari.”
Einstein langsung menjatuhkan biola. Belum selesai rakyat tertawa sampai masuk angin, muncul lagi petuah ekonomi yang membuat para pengembang perumahan bersujud syukur.
“Kau boleh kaya tapi jangan miskinkan kami. Kau boleh punya rumah mewah tapi rakyat, buruh setidak-tidaknya punya rumah type 21 atau 30.”
Wah mantap. Dulu narasinya terdengar seperti ingin membongkar ketimpangan ekonomi global. Sekarang target revolusinya terdengar seperti brosur perumahan subsidi dekat kuburan, bebas banjir, cicilan ringan, bonus galon. Netizen langsung bingung. Ini manifesto perjuangan buruh atau iklan developer?
Lalu datang episode paling epik, Pertamax. Harga Pertamax melompat dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Naiknya bukan lagi naik. Ini kabur dari gravitasi.
Publik sudah membayangkan jalanan dipenuhi lautan massa. Spanduk dicetak. Toa dicas penuh. Ban bekas mulai pemanasan. Ternyata…tidak ada kiamat, gempa demonstrasi, tsunami perlawanan. Yang muncul justru ketenangan tingkat dewa.
Said Iqbal mengatakan kenaikan itu terjadi pada BBM non-subsidi. Sementara Pertalite masih Rp 10.000 dan pemerintah berjanji tidak naik sampai akhir tahun.
Netizen langsung melongo seperti ayam melihat rekening gaji anggota DPR. Dulu bensin naik recehan saja suasana seperti trailer film Armageddon. Sekarang naik Rp 3.950 per liter, reaksinya seperti mendengar pengumuman diskon deterjen.
Puncak komedinya terjadi saat ribuan mahasiswa turun ke Bundaran HI pada 12 Juni 2026. Mahasiswa berteriak, berorasi, berkeringat, diblokade. Lalu rakyat bertanya, “Mana buruh?”
Jawabannya datang lembut seperti lagu pengantar tidur. “Belum ada rencana aksi.” Karena fokus revisi Permenaker Nomor 7 Tahun 2026 tentang outsourcing. Dialog menjadi pilihan. Advokasi menjadi jalan. Musyawarah menjadi kendaraan. Toa demonstrasi mungkin menangis sendirian di gudang.
Akhirnya netizen membuat kesimpulan yang beredar dari warung kopi sampai kolom komentar. Ternyata amarah buruh tidak bisa diredam polisi. Tidak bisa diredam pagar besi, gas air mata. Yang paling ampuh ternyata kursi kekuasaan. Sekali duduk, emosi turun. Dua kali rapat, tensi stabil. Tiga kali pujian, Einstein ikut terseret ke dalam obrolan.
Entah ini strategi politik tingkat galaksi atau jurus bertahan hidup tingkat naga putih bermata merah, yang jelas rakyat sedang menyaksikan sebuah fenomena langka. Perjuangan buruh yang dulu menggelegar seperti konser metal, kini terdengar selembut musik lift hotel.
Di puncak semua itu, berdirilah satu legenda baru yang akan dikenang netizen bertahun-tahun, Said Iqbal, Sang Master Jilatan Tingkat Dewa, penemu teori baru bahwa IQ Prabowo setara Einstein dan satu kursi jabatan bisa lebih ampuh dari seribu toa demonstrasi.
Rosadi Jamani
