Imbas Perang, Kerajaan Bahrain Mau Direvolusi Rakyatnya Sendiri

Pontianak, PBSN – Saya pernah menulis teori konspirasi warung kopi level tiga, kenapa sebagian negara Arab agak alergi sama Iran? Jawabannya sederhana, karena Iran itu bukan cuma negara, dia semacam “tutorial YouTube: Cara Meruntuhkan Monarki dalam 10 Hari, Tanpa Iklan.” Seperti biasa, yang ditakuti bukan bomnya, tapi idenya. Ide itu lho, yang kalau nyebar, bisa bikin rakyat tiba-tiba sadar kalau raja itu bukan makhluk mitologi yang turun dari langit bawa wahyu plus rekening Swiss.

Lompat ke akhir Maret 2026, dan tiba-tiba Bahrain berubah dari negara yang biasanya cuma muncul saat balapan F1 jadi panggung sinetron geopolitik penuh asap, air mata, dan status WhatsApp yang berujung penangkapan. Komposisinya sudah seperti resep konflik yang ditulis pakai tangan gemetar, 60–70% penduduk Syiah, tapi yang pegang remote TV negara adalah keluarga kerajaan Sunni Al Khalifa. Ibarat rumah besar, tapi mayoritas penghuni cuma jadi tamu permanen.

Lalu datanglah perang Iran vs Israel-AS. Ini seperti episode crossover yang tidak diminta siapa pun. Serangan besar di akhir Februari 2026 menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, dan seketika kawasan berubah jadi medan emosi kolektif. Iran balas dengan drone dan rudal ke berbagai target, termasuk Bahrain. Di Manama, ledakan terjadi, korban berjatuhan, dan suasana berubah dari “panas” menjadi “ini sudah kayak neraka tapi pakai WiFi.”

Rakyat Syiah di Bahrain turun ke jalan. Ada yang damai sambil bawa duka. Ada yang emosional sambil bawa molotov. Manusia kalau sudah campur antara marah, takut, dan kehilangan, kadang logika ditaruh di laci. Mereka memprotes kedekatan pemerintah dengan AS dan Israel. Apalagi Bahrain jadi tuan rumah Armada Kelima Angkatan Laut AS. Rumah sendiri, tapi halaman belakang dipakai parkir kapal perang orang lain, ya wajar kalau penghuni mulai bertanya, “Ini rumah siapa sebenarnya, wak?”

Pemerintah Bahrain tidak pakai basa-basi. Awal Maret 2026, langsung keluar larangan total protes demi “keamanan publik.” Kalimat yang kalau diterjemahkan bebas artinya, “Kami tidak mau lihat kalian berkumpul, titik.” Lebih dari 60 orang ditangkap. Bukan cuma yang demo, tapi juga yang posting, share video, bahkan yang mungkin cuma salah kirim link. Ada yang diancam hukuman mati. Ada yang dituduh bagian dari konspirasi Iran. Karena dalam dunia politik, kalau ada masalah, selalu ada dua kambing hitam, antek asing dan rakyat sendiri.

Laporan dari Human Rights Watch dan aktivis lokal menyebut penangkapan sewenang-wenang, termasuk anak di bawah umur, bahkan ada satu tahanan 32 tahun yang meninggal di tahanan. Tragis? Jelas. Tapi di panggung geopolitik, tragedi sering lewat seperti iklan YouTube, semua lihat, tapi jarang yang benar-benar berhenti.

Apakah ini sudah revolusi ala Iran? Tenang, ini belum sampai level “ganti rezim sambil live streaming.” Ini masih protes sporadis yang dipicu campuran maut. Perang regional, luka sektarian lama, dan rasa tidak adil yang dipendam bertahun-tahun. Pemerintah Bahrain masih kuat. Ini dibacking sekutu Gulf yang siap jadi tameng. Rumor di medsos soal kerajaan mau kabur ke Saudi atau Iran siap “reclaim” Bahrain itu lebih cocok jadi naskah film Netflix dari laporan intelijen. Realitanya lebih membosankan. Kekuasaan masih solid, protes ditekan, tapi bara tetap hidup seperti arang sate, diam, tapi panas.

Sementara itu di Irak, ceritanya seperti game multiplayer tanpa aturan. Sejak 28 Februari 2026, milisi pro-Iran seperti Kataib Hezbollah dan kawan-kawan meluncurkan puluhan hingga ratusan serangan drone dan roket ke target AS di Erbil, Baghdad, sampai Anbar. Enam tentara AS tewas, ratusan luka. Banyak serangan dicegat, tapi cukup yang lolos untuk bikin suasana tetap “seru” dalam arti yang sangat tidak menyenangkan.

Rakyat Irak ikut turun ke jalan, berkabung, protes, minta AS angkat kaki. Tapi belum sampai level menyerbu pangkalan. Ini lebih seperti tekanan politik dengan latar belakang ledakan.

Kesimpulannya, ketakutan lama negara monarki terhadap Iran itu bukan paranoia murahan. Mereka tidak takut diserang, mereka takut ditiru. Karena begitu rakyat mulai sadar, kekuasaan itu bukan takdir, melainkan konstruksi, maka yang runtuh bukan cuma istana, tapi juga ilusi. Di Timur Tengah hari ini, ilusi itu mulai retak, pelan-pelan, seperti kaca yang tahu suatu saat pasti pecah, tinggal menunggu siapa yang melempar batu pertama.

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

 

Rosadi Jamani