Fathimah Azzahra, dari Ruang Kedokteran ke Garis Depan Gerakan Mahasiswa

Politik40 Views

Jakarta, PBSN –‘Fathimah Azzahra mungkin tidak pernah menyangka bahwa ruang kuliah kedokteran dan jalanan Jakarta akan mempertemukan dirinya dalam sorotan publik. Di satu sisi, ia adalah mahasiswi Program Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) angkatan 2023. Di sisi lain, ia kini berada di jajaran pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) periode 2026, mendampingi Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan.

Dua ruang itulah yang belakangan membuat nama Fathimah Azzahra semakin dikenal. Setelah sebelumnya ramai diperbincangkan karena pandangannya dalam diskusi mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG), Fathimah kembali menjadi perhatian ketika berada di barisan depan aksi mahasiswa BEM UI bertajuk #MerebutKemerdekaan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Dalam aksi tersebut, Fathimah terlibat dialog panas dengan aparat kepolisian ketika massa mahasiswa hendak bergerak menuju Bundaran HI. Perdebatan antara Fathimah dan Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol. Reynold Elisa Partomun Hutagalung terkait pembatasan pergerakan mahasiswa dan penggunaan mobil komando kemudian beredar luas di media sosial.

Namun, jika Fathimah hanya dilihat dari potongan video demonstrasi, gambaran tentang dirinya menjadi terlalu sederhana.
Sebab, sebelum dikenal sebagai aktivis yang berani berdebat di ruang publik, Fathimah lebih dulu membangun rekam jejak di lingkungan akademik dan organisasi mahasiswa.

Bukan Sekadar Aktivis

Fathimah bukan nama baru dalam dinamika organisasi mahasiswa UI. Pada 2025, ia tercatat sebagai Head of 2nd Commission Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UI. Setahun sebelumnya, ia juga dipercaya menjadi Head of Community of Neuroscience and Psychiatry (CORE) FKUI.

Keterlibatannya tidak berhenti pada organisasi internal mahasiswa. Pada 2025, Fathimah turut menjadi orator dalam kegiatan Independence of the Medical Profession yang digelar bersama Dewan Guru Besar FKUI dan BEM FKUI.

Rekam jejak tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas Fathimah berkembang di sejumlah ruang sekaligus: organisasi kemahasiswaan, isu kesehatan, advokasi profesi, hingga persoalan kebijakan publik.

Pada Januari 2026, ia kemudian terpilih menjadi Wakil Ketua BEM UI dan mendampingi Yatalathof Ma’shum Imawan sebagai Ketua BEM UI.
Posisi tersebut membuat ruang geraknya semakin luas. Sebagai bagian dari pimpinan BEM UI, ia tidak lagi hanya berbicara mengenai persoalan fakultas atau profesi kedokteran, tetapi juga ikut menyuarakan isu-isu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Berbicara dari Perspektif Mahasiswa Kedokteran

Sebelum aksi 18 Agustus, nama Fathimah sudah lebih dahulu muncul dalam perbincangan publik setelah pandangannya mengenai MBG menjadi viral.

Dalam sebuah forum diskusi pada Juni 2026, ia menyampaikan kritik mengenai prioritas pembangunan pemerintah. Fathimah menyoroti masih adanya persoalan mendasar seperti akses pendidikan dan infrastruktur di sejumlah daerah yang menurutnya perlu mendapat perhatian sebelum pemerintah memperluas program tambahan.

Pernyataannya kemudian menyebar di media sosial dan memperkenalkan Fathimah kepada publik yang lebih luas. ANTARA bahkan menggambarkan dirinya sebagai Wakil Ketua BEM UI yang kritis, tetapi menyampaikan argumentasi secara lugas dan tetap santun.

Latar belakang kedokteran Fathimah menjadi menarik. Ia tidak datang dari disiplin ilmu politik, hukum, atau ilmu sosial. Ia adalah mahasiswa kedokteran yang sehari-hari berhadapan dengan ilmu tentang manusia, kesehatan, dan persoalan medis.

Namun, pilihan studinya tidak membuat pandangannya terhadap persoalan masyarakat berhenti di ruang klinis atau laboratorium.
Justru dari organisasi mahasiswa, ia memperluas perhatian pada persoalan pendidikan, pembangunan, kebijakan pemerintah dan kehidupan sosial.

Prestasi Akademik di Tengah Aktivisme

Kesibukan sebagai aktivis mahasiswa juga tidak membuat Fathimah meninggalkan dunia akademik.
Bersama Robby Malik Chandra Sudrajat, Nabila Najwa Nurisma, dan Alya Citra, Fathimah menjadi bagian dari tim FKUI yang meraih Juara I Oral Presentation pada The 17th Liver Update 2025 yang berlangsung pada April 2025 di Jakarta.
Prestasi tersebut tercatat dalam laporan akhir jabatan Dekan FKUI periode 2021-2025.

Catatan tersebut penting karena memperlihatkan sisi Fathimah yang sering luput dari perhatian ketika publik hanya melihat dirinya melalui video demonstrasi atau potongan pernyataan politik.
Ia bukan hanya mahasiswa yang aktif berorganisasi.
Ia juga menjalani proses akademik, terlibat dalam penelitian, dan memiliki prestasi di bidang yang sedang dipelajarinya.

Dengan kata lain, aktivitas gerakannya tidak menggantikan kehidupan akademiknya. Keduanya berjalan beriringan.

Dari Kampus ke Jalanan

Karena itu pula, aksi BEM UI pada 18 Agustus 2026 menjadi babak lain dari perjalanan Fathimah.
Dalam aksi bertajuk #MerebutKemerdekaan tersebut, BEM UI membawa sejumlah tuntutan, mulai dari pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), reforma agraria, persoalan harga kebutuhan pokok dan BBM, evaluasi Proyek Strategis Nasional (PSN), hingga sejumlah persoalan kebijakan pemerintah. Fathimah berada di barisan depan.

Ketika aparat membatasi pergerakan massa mahasiswa menuju Bundaran HI, ia tampil dalam dialog langsung dengan kepolisian. Ketegangan dalam percakapan tersebut kemudian menjadi salah satu momen yang paling banyak beredar di media sosial.

Bagi sebagian orang, keberanian itu mungkin dilihat sebagai karakter aktivis. Namun, jika melihat perjalanan Fathimah secara utuh, keberanian berbicara di ruang publik bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba.

Ia tumbuh dari pengalaman organisasi yang telah dijalaninya sejak sebelum menjadi pimpinan BEM UI.
Perempuan Muda di Tengah Sorotan
Popularitas yang datang melalui media sosial tentu membawa konsekuensi tersendiri.

Satu potongan video dapat membuat seseorang dikenal jutaan orang, tetapi pada saat yang sama dapat membuat publik menilai seseorang hanya berdasarkan beberapa menit penampilan di depan kamera.

Fathimah kini berada dalam situasi tersebut.
Publik mengenalnya melalui perdebatan mengenai MBG. Kemudian mengenalnya lagi melalui aksi mahasiswa di Bundaran HI. Padahal, di balik dua momen viral itu terdapat perjalanan yang lebih panjang: seorang mahasiswi kedokteran yang aktif dalam organisasi, terlibat dalam isu profesi, mengikuti penelitian dan kompetisi akademik, kemudian dipercaya menjadi salah satu pimpinan organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia.
Di situlah profil Fathimah menjadi lebih menarik.

Ia bukan sekadar mahasiswi kedokteran yang menjadi aktivis. Ia juga bukan sekadar aktivis yang kebetulan kuliah kedokteran. Fathimah sedang menjalani keduanya secara bersamaan. Ruang kuliah memberinya disiplin akademik. Organisasi memberinya pengalaman kepemimpinan. Penelitian memberinya pengalaman ilmiah. Sementara ruang publik memberinya kesempatan untuk menguji gagasan dan menyampaikan kritik.

Karena itu, viralnya Fathimah dalam aksi 18 Agustus sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai cerita tentang seorang mahasiswa yang berdebat dengan aparat. Lebih dari itu, ia merupakan potret generasi mahasiswa yang mencoba membawa pengetahuan dari kampus ke ruang publik—dan membawa persoalan masyarakat kembali ke lingkungan akademik.

Di tengah kehidupan kampus yang semakin beragam, Fathimah Azzahra memilih jalan yang tidak sederhana: tetap menjadi calon dokter, sekaligus mengambil posisi sebagai suara mahasiswa. Dan jalan itulah yang kini membuat namanya semakin sulit dilepaskan dari perbincangan tentang gerakan mahasiswa Indonesia.

 

Oleh : Haiqal Jibril