Jakarta, PBSN – Apa yang tergambar di benak nuan saat mendengar kata komunisme? Anti Tuhan, kejam, bengis, ingat film G30SPKI, macam-macam. Sekarang, ketika mendengar komunis China, gimana? Teknologi canggih, kereta api cepat, mobil listrik, raja infrastruktur, ekonomi maju. Nah, saya mau membahas komunisme China yang dulu ditakuti, sekarang malah ramai negara ingin berteman dengan negara tersebut. Siapkan kopi tanpa gula, wak! Mari kita dalami China dengan ideologi komunismenya.
Kapitalisme kini seperti selebritas tua yang terlalu sering disuntik filler ideologi. Dulu dielu-elukan, dipuja-puji, dianggap sebagai juru selamat umat manusia dari mimpi buruk komunis. Tapi lihatlah dia sekarang. Ngos-ngosan di atas panggung global, dandan menor dengan utang ratusan triliun dolar, sambil bicara soal “kebebasan ekonomi” kepada generasi muda yang bahkan tak bisa beli rumah walau kerja dari pagi sampai tipes.
Di seberang panggung, muncullah tamu tak diundang tapi berpakaian rapi, Komunisme China. Dulu dihina, disingkirkan, dituding sebagai sumber segala malapetaka umat. Di Indonesia, ia bahkan dijadikan hantu pengantar tidur selama puluhan tahun. Tapi hari ini, hantu itu bukan lagi seram, ia duduk santai di kursi direktur, memegang remote ekonomi global, dan mengenakan dasi sutra hasil manufaktur dalam negeri.
Amerika Serikat, juru bicara utama kapitalisme, kini sedang batuk pilek. Dengan rasio utang publiknya yang menyentuh 122% dari PDB pada tahun 2024, negeri itu seperti mahasiswa semester akhir yang hidup dari utang KTA dan kopi sachet. Di saat yang sama, data dari Oxfam menunjukkan bahwa 1% orang terkaya di dunia menguasai hampir setengah dari total kekayaan global. Sistem ini sudah mirip permainan Monopoli yang dimenangkan oleh satu orang, sementara sisanya sibuk pura-pura bahagia sambil kelaparan.
Sementara itu, Cina tersenyum penuh perhitungan. Ekonomi mereka tumbuh 5,2% pada 2023, stabil dan terorganisir layaknya parade militer saat hari nasional. Mereka tetap memegang teguh ideologi Partai Komunis, tapi dengan sentuhan parfum kapitalisme level dunia. E-commerce jalan. Investasi asing masuk. Jalan tol dibangun, pelabuhan ditanam, kereta cepat ditancapkan bahkan ke negara-negara yang peta lokasinya saja belum tentu dihafal oleh anak SMA Cina.
Mereka menyebutnya “komunisme dengan karakteristik China.” Sebuah konsep ajaib, di mana kamu bisa menjadi miliarder sepanjang kamu tidak mempertanyakan partai. Sistem ini seperti restoran prasmanan. Kapitalisme di luar, kontrol negara di dapur. Negara lain terpukau. Beberapa bahkan ingin ikut mencicipi. Belt and Road Initiative yang sudah menggandeng lebih dari 150 negara bukan lagi sekadar proyek infrastruktur, tapi pameran ideologi rasa bisnis yang tak pernah benar-benar tidur.
Kapitalisme dan komunisme kini bukan lagi dua kutub yang saling mengutuk. Mereka berubah menjadi dua badut sirkus yang sama-sama pura-pura punya solusi. Yang satu menawarkan kebebasan yang hanya bisa dibeli oleh 1% manusia. Yang satu lagi menawarkan stabilitas dengan harga sensor. Sementara rakyat dunia? Duduk di tribun penonton, tertawa getir, sambil berharap kopi liberika tidak dikenakan pajak progresif.
Jika Karl Marx hidup hari ini, mungkin ia akan membuka channel YouTube dan mengulas mengapa Das Kapital kini dijual sebagai e-book berbayar dengan watermark. Adam Smith? Mungkin sedang duduk termenung di awan, bingung melihat “invisible hand” malah ikut rebutan diskon Harbolnas.
Dunia telah berubah. Ideologi bukan lagi tentang keyakinan suci, tapi siapa yang bisa menciptakan sistem paling efisien untuk tetap kaya tanpa disalahkan. Jika ini bukan akhir dari pertarungan kapitalisme vs komunisme, maka ini adalah season baru dengan plot twist yang disponsori oleh Bank Sentral dan TikTok.
Rosadi Jamani
