Upah Naik Tipis, Hidup Ditekan Habis

Opini, Sosial447 Views

Oleh : Rosadi Jamani (Jurnalis)

Jakarta, PBSN – Di penghujung 2025, tepat 26 Desember pemerintah sibuk menghitung nasib buruh pakai kalkulator yang baterainya kayak mau habis. Lahirlah UMP 2026. Katanya naik rata-rata nasional 6–7 persen. Kedengarannya manis. Tapi rasanya? Lebih mirip gulali tapi aura rasanya mirip nano-nano. Simak narasinya.

Kita mulai dari singgasana tertinggi. DKI Jakarta masih jadi bangsawan upah nasional: UMP Rp 5.729.876, naik Rp 333.116 dari tahun lalu. Kenaikan yang secara teori terlihat gagah, tapi secara praktik cuma cukup buat langganan kopi susu kekinian sebulan sambil tetap mikir, “besok makan apa?”. Di belakangnya, Papua Selatan Rp 4.508.850, Papua Rp 4.436.283, dan Papua Tengah yang naiknya paling absurd, Rp 10.000 saja. Serius pace, itu bukan kenaikan, itu kembalian parkir.

Deretan selanjutnya masih lumayan bikin kepala mengangguk pelan sambil senyum pahit. Bangka Belitung Rp 4.035.000, Sulawesi Utara Rp 4.002.630, Sumatera Selatan Rp 3.942.963, Sulawesi Selatan Rp 3.921.088, Kepulauan Riau Rp 3.879.520, Papua Barat Rp 3.840.947. Riau Rp 3.780.495. Kalimantan Timur Rp 3.759.313. Kalimantan Utara Rp 3.770.000. Papua Barat Daya Rp 3.766.000. Semua naik, iya. Tapi naiknya seperti tangga darurat, sempit, curam, dan bikin ngos-ngosan.

Kalimantan Selatan paling dramatis. Naik Rp 403.326 jadi Rp 3.686.138. Mungkin malam itu yang ngitung lagi mellow, pian.

Masuk zona “realistis tapi menyayat”. Kalimantan Tengah Rp 3.686.138, Maluku Utara Rp 3.552.840, Jambi Rp 3.471.497, Gorontalo Rp 3.405.144, Maluku Rp 3.334.499, Sulawesi Barat Rp 3.315.935, Sulawesi Tenggara Rp 3.306.496. Bali? Cuma Rp 3.207.459. Ironis. Pulau surga dunia, tapi buruhnya hidup pakai tiket kelas ekonomi super promo. Sulawesi Tengah jadi juara persentase, naik 9,08 persen ke Rp 3.179.565 ini bukti kalau angka bisa tampak heroik walau dompet tetap kurus.

Banten Rp 3.100.881. Kalimantan Barat Rp 3.054.552. Lampung Rp 3.047.734. Bengkulu Rp 2.827.250. NTB Rp 2.673.861. Naiknya segitu-segitu saja, seperti dikasih kembalian belanja sambil dibilang, “udah ya, jangan ribut.” “Duh, Kalbar daerah saya, wak! Tapi, warganya bahagia karena suka ngopi dari pagi sampai malam hari.” Ups.

Sekarang, bagian paling pahit tapi harus ditelan, dasar jurang UMP nasional. Jawa Barat Rp 2.317.601 paling rendah se-Indonesia. “Punten Kang Dedi.” Provinsi industri, tapi upahnya seperti hadiah lomba tujuh belasan. Jawa Tengah Rp 2.317.386, DIY Rp 2.417.495, Jawa Timur Rp 2.446.880, NTT Rp 2.455.898. Ini wilayah padat pabrik, padat tenaga kerja, tapi upahnya padat penderitaan. Aceh dan Papua Pegunungan belum umumkan, mungkin masih mikir cara menaikkan tanpa bikin headline marah.

Tak heran kalau buruh meledak. KSPI, FSPMI, ASPIRASI, dipimpin Said Iqbal, langsung pasang badan. Mereka bilang UMP ini belum nyentuh 100 persen KHL. Di Jakarta, versi buruh KHL Rp 5,89 juta, UMP cuma Rp 5,72 juta. Selisihnya? Cukup buat rokok sebatang sambil mikir hidup. Mereka protes formula baru PP Pengupahan, protes keterlibatan buruh yang setengah hati, protes waktu penetapan yang molor sampai akhir Desember, protes daya beli yang ambruk karena harga pangan, BBM, listrik makin brutal. Ujungnya, demo, gugatan PTUN, ancaman mogok nasional. Negara mau tahun baru, buruh mau bertahan hidup.

Secara aturan, semua ini rapi. PP Nomor 49 Tahun 2025. Dewan Pengupahan tripartit. Data BPS. Formula inflasi plus pertumbuhan ekonomi dikali alfa 0,5 sampai 0,9. Kedengarannya ilmiah. Tapi hasilnya sering terasa seperti main monopoli: buruh selalu berhenti di petak “bayar pajak”, pengusaha bangun hotel, pemerintah jadi wasit yang kadang matanya juling.

Akhirnya, tulisan ini bukan sekadar bikin nuan hafal angka. Tapi bikin sampeyan sadar, ada yang naik, ada yang diam, ada yang tertinggal. Ada yang hidup di menara kaca, ada yang bertahan di dapur sempit. Selamat menyongsong 2026. Semoga tahun depan yang gemuk bukan cuma grafik ekonomi, tapi juga dompet buruh.

Foto Ai hanya ilustrasi

#jurnalismeyangmenyapa
#JYM