Senjakala Gerakan Mahasiswa : Ketika Idealisme Disetir Rupiah

Opini, Politik, Sosial28 Views

Jakarta, PBSN – Dalam catatan sejarah Indonesia, mahasiswa bukanlah sekadar kelompok akademisi yang berkutat dengan teori di ruang kelas. Mereka adalah mercusuar, “penjaga gawang” nurani bangsa yang kerap menjadi antitesis terhadap kesewenang-wenangan penguasa. Dari penggulingan rezim kolonial hingga peristiwa Reformasi 1998, darah dan keringat mahasiswa telah menjadi pupuk bagi tumbuhnya demokrasi.

Namun, narasi heroik tersebut kini tengah mengalami keretakan yang menganga. Kita sedang menyaksikan sebuah ironi yang memilukan: tatkala gerakan mahasiswa yang seharusnya menjadi agen perubahan (agent of change), justru mengalami metamorfosis yang merusak menjadi agen penguasa yang pragmatis.

Pengakuan mengejutkan dari segelintir elemen BEM mengenai adanya aliran dana dari oknum penguasa dalam aksi demonstrasi bukanlah sekadar “berita miring” biasa. Ini adalah sinyal bahaya akan bangkrutnya moralitas kaum intelektual. Ketika suara rakyat yang seharusnya menjadi kompas perjuangan kini bisa dibeli dengan nominal tertentu, maka pada saat itulah integritas gerakan mahasiswa telah digadaikan.

Uang, dalam hal ini, bertindak sebagai anastesi yang mematikan saraf kritis. Ketika gerakan mahasiswa tidak lagi lahir dari keresahan kolektif masyarakat, melainkan dari pesanan atau “kontrak kerja” terselubung, maka aksi di jalanan hanyalah sebuah panggung sandiwara. Mahasiswa tidak lagi menjadi juru bicara rakyat, melainkan menjadi figuran dalam skenario besar para penguasa untuk melanggengkan kekuasaan.

Simbolisme Pengkhianatan: Foto yang Berbicara Lebih Keras

Publik tentu terperangah saat melihat foto-foto yang beredar, di mana mahasiswa yang sebelumnya lantang menyuarakan kritik, justru berpose akrab bersama pejabat tinggi negara setelah “misi” selesai. Foto tersebut bukan sekadar dokumentasi pertemuan; itu adalah simbol dari runtuhnya batas antara pengontrol dan yang dikontrol.

Ini adalah bentuk kooptasi paling brutal. Penguasa tidak lagi perlu menggunakan gas air mata atau represifitas militer untuk membungkam mahasiswa. Mereka cukup menggunakan kekuatan modal. Dengan menyisipkan kepentingan finansial, penguasa berhasil mengubah “anjing penjaga” demokrasi menjadi sekadar “peliharaan” yang hanya menggonggong saat diperintahkan dan diam saat disuap.

Menuju Bangsa yang Takluk oleh Materialisme

Apa implikasinya bagi masa depan Indonesia? Sangat serius. Jika institusi yang seharusnya menjadi harapan terakhir (the last resort) untuk menjaga kewarasan bangsa telah terinfeksi virus materialisme, maka kita sedang berjalan menuju kehancuran nilai. Sebuah bangsa tanpa integritas moral adalah bangsa yang rapuh, mudah diatur, dan takluk oleh kepentingan segelintir elite.

Gerakan mahasiswa yang terjebak dalam pragmatisme politik akan kehilangan daya tawar (bargaining power) yang paling sakral: kemurnian. Tanpa kemurnian, mahasiswa hanyalah politisi muda yang sedang berlatih menjadi koruptor di masa depan.

Menakar Ulang Eksistensi

Sudah saatnya gerakan mahasiswa melakukan otokritik besar-besaran. Kampus harus kembali menjadi laboratorium pemikiran kritis, bukan inkubator bagi oportunis politik. Mahasiswa perlu diingatkan kembali bahwa tugas mereka bukanlah mencari tempat di balik meja kekuasaan, melainkan menjadi penyeimbang yang berdiri tegak di atas prinsip keadilan.
Jika mahasiswa terus membiarkan diri mereka disetir oleh kepentingan jangka pendek dan lembaran rupiah, maka sejarah tidak akan mencatat mereka sebagai pahlawan perubahan. Sejarah akan mencatat mereka sebagai aktor yang mempercepat senjakala moralitas bangsa.

Di tengah gempuran materialisme yang masif, integritas adalah satu-satunya harga diri yang tersisa. Jangan biarkan kursi kekuasaan atau segelintir uang meruntuhkan bangunan idealisme yang telah dibangun selama puluhan tahun oleh para pendahulu. Karena sekali integritas hilang, maka hilanglah harga diri mahasiswa sebagai pemegang estafet masa depan bangsa.

 

Oleh : Benny Parapat
( Aktivis dan Pemerhati Politik )