PRODUKSI TANAMAN PANGAN BERKURANG PADA TAHUN 2023

Opini1134 Views

Oleh: Awalil Rizky
Ekonom Bright Indonesia

Pertumbuhan ekonomi tahun 2023 diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 5,05%. BPS juga menyajikan rincian pertumbuhan tersebut berupa data pertumbuhan 17 sektor lapangan usaha. Satu diantaranya adalah sektor Pertanian dalam arti luas (termasuk Kehutanan dan Perikanan) yang hanya tumbuh sebesar 1,30%.

Tanaman Pangan sebagai subsektor terbesar dalam sektor pertanian justeru mengalami kontraksi, sebesar minus 3,88%. Produksi tanaman pangan dalam perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2023 lebih sedikit dibanding produksi tahun 2022.

Padahal, para ahli telah sejak lama menyampaikan pandangan bahwa banyak tanaman pangan sangat potensial dikembangkan di Indonesia. Kementerian Pertanian pun kerap mengedepankan beberapa komoditas tanaman pangan utama sebagai fokus kebijakan. Bahkan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang secara khusus menanganinya pun telah lama dibentuk.

Faktanya kemudian, pertumbuhan tanaman pangan selalu lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi selama beberapa dekade terakhir. Bahkan, lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan sektor pertanian.

Perlu diketahui bahwa angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,05% dihitung oleh BPS dari nilai PDB harga konstan tahun 2023 dibandingkan dengan nilainya pada tahun 2021. PDB harga konstan tahun 2023 sebesar Rp12.310 Triliun, sedangkan tahun 2022 sebesar Rp11.710 Triliun.

Pertumbuhan sektor pertanian sebesar 1,30% dihitung dari nilai PDB harga konstan sektor ini pada tahun 2023 sebesar Rp 1.454,59 Triliun, dibandingkan dengan tahun 2022 yang sebesar Rp1.435,85 Trilun. Sedangkan kontraksi subsektor Tanaman Pangan dihitung dari produksi tahun 2023 sebesar Rp287,81 Triliun, yang lebih rendah dibanding tahun 2022 yang sebesar Rp299,44 Triliun.

Subsektor Tanaman Pangan selama periode tahun 2011-2023 hanya tumbuh rata-rata sebesar 1,02% per tahun. Lebih rendah dibanding rata-rata pertumbuhan ekonomi yang sebesar (4,61%), dan sektor pertanian keseluruhan yang sebesar (3,28%).

Bahkan, subsektor Tanaman Pangan sempat mengalami kontraksi pada tahun tertentu. Kontraksi artinya produksi pada tahun itu lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya. Kontraksi terjadi pada tahun 2011 (-1,00%), tahun 2019 (-1,73%), 2021 (-1,40%), dan 2023 (-3,88%).

Selama sembilan tahun era pemerintahan Presiden Jokowi (2015 sampai dengan 2023), subsektor Tanaman Pangan hanya tumbuh rata-rata sebesar 0,82% per tahun. Lebih rendah dari sektor pertanian secara keseluruhan yang sebesar 2,85%, dan pertumbuhan ekonomi yang sebesar 4,13%.

Nilai produksi Tanaman Pangan menurut harga konstan tahun dasar 2010 hanya sebesar Rp287,81 Triliun pada tahun 2023. Nilai produksi ini paling rendah selama tujuh tahun terakhir. Dan hanya setara dengan nilai produksi tahun 2016 yang sebesar Rp287,22 Triliun.

Akibatnya, meski masih yang terbesar, porsinya atas keseluruhan sektor pertanian juga terus menurun. Hanya mencapai 18,04% pada tahun 2023. Padahal, masih sebesar 25,55% pada tahun 2015. Dengan demikian, porsinya makin kecil dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB) pun menjadi makin kecil. Hanya sebesar 2,26% pada tahun 2023.

Perkembangan yang tidak menggembirakan dalam nilai PDB sektor tanaman pangan terkonfirmasi pula dengan data perkembangan produksi fisik beberapa jenis komoditas utamanya. Antara lain: padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau. Hampir semuanya mengalami laju peningkatan yang melambat atau stagnan, bahkan ada yang menurun.

Produksi Tanaman Pangan merupakan salah satu faktor penting bagi kondisi kecukupan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kecukupan pangan memang tidak selalu merupakan hasil produksi sendiri, dapat pula dibeli dari negara lain. Akan tetapi bagi negara seperti Indonesia, harus mampu dipenuhi atau sekurangnya sebagian besar dicukupi oleh produksi dalam negeri sendiri. Alasannya, Indonesia memiliki jumlah penduduk yangsangat banyak, serta memiliki lahan yang cukup luas dan subur.

Tidak mengherankan jika Indeks Ketahanan Pangan Global (GFSI) terbilang rendah. GFSI Indonesia tercatat sebesar 60,20 pada tahun 2022. Skornya di bawah rata-rata global. Hanya peringkat ke-63 dari 113 negara, dan hanya peringkat ke-4 di ASEAN.

#asean
#negara
#ketahanan
#pangan
#global
#pdb
#bps
#pertanian
#presiden
#jokowi
#indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *