POLITIK NASIONAL

Opini1434 Views
Oleh : Abdul Halim
Pemerhati Politik dan Keislaman
Kabar Presiden Jokowi sedang melakukan  Kudeta Merangkak terhadap Ketum PDIP Megawati, telah menjadi trending topik di Twitter maupun Medsos lainnya.
Betapa tidak, selain ingin memaksakan “proxy” Ganjar Pranowo sebagai Capres PDIP, Jokowi sekaligus ingin merebut kursi Megawati dari PDIP. Ibaratnya “sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui”.
Jokowi menggunakan berbagai strategi politik Machiavelis dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
Seperti Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang pura-pura membela Mega dengan memanggil Ganjar yang akhirnya cuma sanksi ringan sekaligus diberi panggung.
Padahal sebenarnya Hasto adalah operator sentral untuk pencapresan Ganjar melalui PDIP dengan menyingkirkan Puan yang diperkirakan bakal direkomendasi Mega.
Kudeta Merangkak memang sudah menjadi tradisi khas para Raja dan Penguasa Jawa untuk menyingkirkan  lawan politiknya.
Seperti yang dilakukan Panembahan Senopati (Sutowijoyo) terhadap Sultan Hadiwijaya dari Kasultanan Pajang, yang akhirnya berhasil mendirikan Kasultanan Mataram Islam di Yogyakarta.
Padahal Sutowijoyo (wafat 1601 M) adalah anak angkat Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir), dimana Jaka Tingkir adalah menantu Sultan Trenggono dari Kasultanan Demak.
Sekarang sedang dilakukan Jokowi terhadap Megawati.
“Sejarah memang akan selalu terulang”, kata Sejarahwan Inggris, Arnold Tonybe.
Meski berasal dari keturunan rakyat biasa, tetapi setelah menjadi Walikota Surakarta, Gubernur DKI dan Presiden RI, Jokowi yang asli Boyolali Surakarta itu, merasa dirinya sudah seperti Bangsawan berdarah biru atau bahkan Raja Raja Jawa.
Terbukti ketika dilantik menjadi Presiden RI (2014), Jokowi sampai mendatangkan 6 kereta milik Keraton Kasunanan Surakarta (KKS) ke Jakarta lengkap dengan kudanya, dimana salah satunya Kereta Kencana, yang sering digunakan untuk Jumenengan para Raja KKS sejak Paku Buwono X (1894-1939) sampai Paku Buwono XIII sekarang.
“Raja Sultan atau Sunan” Jokowi bersiasat, dengan menyingkirkan Mega dari kursi Ketum PDIP dan menjadikan Ganjar Capres yang didukung PDIP, maka Jokowi yang masih menjabat Presiden, akan dengan mudah memenangkan Ganjar melawan Capres terkuat Anies Baswedan, dalam Kontestasi Pilpres 2024, dengan menghalalkan segala cara termasuk kecurangan seperti Pilpres 2019 lalu.
Praktis jika Ganjar menjadi Presiden, kursi Ketua Umum PDIP akan dengan mudah diambil-alih Jokowi sekaligus menyingkirkan Trah Sukarno dari PDIP dan dan berharap dimasa depan akan diganti dengan Trah Jokowi sendiri.
Ganjar akan menjadi pintu masuk untuk menyingkirkan Mega dan Puan, agar Trah Sukarno tidak lagi berkuasa di PDIP.
Jokowi bercira-cita, jika upaya Kudeta Merangkak itu sukses maka Gibran, Kaesang atau Bobby yang akan meneruskan estafet kepemimpinannya di PDIP.
Tetapi apakah strategi Kudeta Merangkak akan berjalan mulus ? Wallahu A’lam.
Sebelumnya Jokowi telah melakukan test case kudeta terhadap AHY melalui Kepala KSP Moeldoko, namun gagal.
Sebab di situ masih ada SBY, ayah AHY. Namun ketika kudeta dilakukan terhadap Ketum PPP Suharso Monoarfa oleh M Mardiono (Wantimpres), Jokowi berhasil.
Kiranya keberhasilan menyingkirkan Suharso itulah yang menjadikan Jokowi nekat ingin menyingkirkan Mega dan Puan dari PDIP.
Berbagai cara dilakukan untuk mengeliminasi Puan sebagai Balon Capres PDIP, meski bertentangan dengan Konstitusi.
Seperti isu terbaru Presiden harus orang Jawa asli, padahal Puan berdarah Palembang, sebab ayahnya Taufiq Kiemas asli Palembang.
Sekarang Jokowi dengan bantuan LBP dan think thanknya, sedang melaksanakan dua strategi politik secara bersamaan.
Pertama, melakukan Kudeta Merangkak terhadap Mega, dengan tujuan Ganjar jadi Capres PDIP sekaligus mengambil-alih kursi Ketum PDIP dari Mega.
Kedua, melakukan strategi politik Machiavellis untuk menggagalkan Anies maju Capres 2024. Sebab Jokowi mafhum, jika Anies head to head Ganjar, pasti Ganjar keok.
Teguran Jokowi terhadap Ketum Nasdem Surya Paloh karena memilih Capres sembarangan, bisa difahami.
Sebab Jokowi ingin menyingkirkan Anies dari bursa Capres 2024. Sebab jika Anies sampai maju Pilpres 2024, apakah Ganjar atau Prabowo pasti tersungkur.
Pasalnya, selama ini rakyat sudah muak dengan pemerintahan Jokowi selama dua periode dan ingin memilih pemimpin baru sebagai antitesa Jokowi, dan itu hanya ada pada diri Anies, bukan Ganjar atau Prabowo apalagi Puan.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Jokowi ngotot ingin menyingkirkan Mega dan Puan dari PDIP ?
Padahal Mega sebagai Suhu Politik Jokowi, bahkan telah menjadikannya Walikota Surakarta (2005), Gubernur DKI (2012) dan Presiden RI (2014 dan 2019).
Seandainya Taufiq Kiemas masih hidup, mustahil Jokowi jadi Gubernur DKI apalagi Presiden RI. Sebab Taufiq-lah yang menentang keras pencalonan Jokowi dari PDIP untuk Gubernur DKI. Tanpa kursi Gubernur DKI, mustahil Jokowi jadi Presiden RI.
Mengapa syahwat politik Jokowi begitu besar untuk menyingkirkan Mega dan Puan serta Trah Sukarno dari PDIP ?
Pertama, Mega, Puan dan Trah Sukarno, dianggap sebagai penghalang besar bagi dirinya dan karier politik di masa depan bagi Trahnya, seperti Gibran dan Bobby serta menyusul Si Raja  Pisang, Kaesang. Jokowi ingin mengendalikan PDIP pasca Lengser Keprabon dan tidak ingin adanya Matahari Kembar di PDIP.
Kedua, Jokowi ingin mengamankan diri dan keluarganya serta karier politiknya tetap berlanjut pasca lengsernya (2024).
Jokowi tak ingin anak dan menantunya jadi pesakitan KPK pasca lengsernya.
Ketiga, dengan Ganjar jadi Presiden, maka kursi Ketum PDIP sudah dalam genggamannya.
Keempat,  Jokowi ingin seperti SBY, pasca lengser tetap memiliki kekuasaan politik sebagai Ketum Partai besar, sehingga kekuasaannya akan tetap berkesinambungan bahkan sampai anak dan mantunya atau Trahnya.
Kelima, dengan masih memiliki power politik dan memimpin partai besar, Jokowi berharap tangan tangan gurita KPK tidak akan mampu menjangkaunya.
Keenam, Jokowi sengaja ingin membabat habis faktor ideoligis dan Trah Sukarno dari PDIP. Padahal PDIP yg didirikan Megawati (1997) adalah kelanjutan dari PNI yg didirikan Sukarno (1927).
Ketujuh, strategi politik Machiavelis tetap akan dilakukan Jokowi demi menyelamatkan karier politiknya, diri dan keluarganya serta Trahnya dikemudian hari. Meskipun harus menyingkirkan Mega sebagai Suhu Politiknya yang telah berjasa besar mengantarkannya ke Kursi RI-1.
Jokowi tentu berfikir, kalau
Ketum PKB Muhaimin Iskandar berani menyingkirkan Suhu Politiknya Gus Dur dan
Ketum PAN Zulkifli Hasan berani menyingkirkan Suhu Politiknya Amien Rais, mengapa Jokowi sebagai Presiden RI tidak berani menyingkirkan Megawati ?
Sebab bagi Jokowi, keluarga, karier politik, Trah Politik serta Dinasti Politik jauh lebih penting daripada Suhu Politik Megawati meski telah berjasa besar dalam kehidupan politiknya serta Trah Politik Sukarno.
Dapat diibaratkan, selama ini Mega telah memelihara Anak Macan, setelah besar justru memakan dirinya sendiri.
Air susu dibalas air tuba.
Apakah ini sebagai dampak dari Mubahalah Habib Rizieq Syihab ? Wallahu A’lam.
.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *