POLITIK DUA KAKI JOKOWI?

Opini1289 Views

Oleh : Dr. Wahyu Setiawan

Jokowi sedang memainkan politik dua kaki. Di satu sisi mendukung pencalonan Ganjar jadi Presiden. Namun di sisi lain memberi harapan dukungan juga pada Prabowo. Benarkah Jokowi memainkan politik dua kaki? Sebenarnya tidak. Jokowi hanya bermain satu kaki, yakni mendukung Ganjar Pranowo yang diusung oleh PDIP.

Lantas apa maksud sinyal dukungannya pada Pabowo yang diekspose ke publik? Itu hanya sandiwara, karena dalam beberapa tahun terakhir, PDIP adalah partai yang paling mahir bermain sandiwara. Sandiwara bu mega marah ke Ganjar. Sandiwara konflik di internal PDIP, sandiwara konflik Ganjar dengan Puan, dan sandiwara konflik Jokowi dengan Mega. Toh ujung dari sandiwara itu akhirnya kita lihat PDIP bulat mendukung pencapresan Ganjar.

Pertanyaan menariknya, kenapa PDIP dan Jokowi enggan melepaskan Prabowo? Bahkan setelah jelas-jelas mereka menyatakan mengusung Ganjar? Inilah kalkulasi-kalkulasi politik yang dibuat PDIP. PDIP menyadari adanya irisan dukungan pendukung Anies dengan Prabowo, karena itu menurut mereka Prabowo harus maju. Survey terhadap Prabowo diangkat terus satu paket dengan Ganjar untuk mencitrakan bahwa dia masih layak untuk mencalonkan diri. Sebab kalau Prabowo tidak mencapres, haqqul yaqin 80% pendukung Prabowo akan beralih mendukung Anies. Jokowi adalah orang yang paling tepat ditugaskan partai untuk menempel Prabowo. Selain sebagai presiden, Jokowi juga atasannya Prabowo.

PDIP menargetkan Ganjar menang dalam pilpres satu putaran, meraih suara lebih dari 50%. Namun jika tidak tercapai? Putaran kedua akan menjadi titik rawan bagi Ganjar dan PDIP. Jika putaran kedua yang maju adalah Ganjar dan Prabowo, masih aman bagi PDIP. Toh sejarah membuktikan mereka sudah dua kali mengalahkan Prabowo, bahkan pendukung ekstrim kanan yang sudah kecewa dengan Prabowo dapat dipastikan tidak akan mau lagi memilih Prabowo. Dan pada saat itu dukungan Jokowi pasti sudah tegas dan terang-terangan ke Ganjar, dan Prabowo akan ditinggalkan.

Tapi kalau yang maju ke putara kedua adalah Anies dan Ganjar, ini memang akan menjadi situasi emergency bagi PDIP. Bisa-bisa kasus Pilgub DKI terulang lagi. Semua Pendukung Prabowo dibawah komando Prabowo akan diarahkan mendukung Anies. Dan Anies berpeluang memenangkan pilpres 2024 Insyaallah. Kenapa demikian? Karena pasti ketika Pasangan calon ditetapkan oleh KPU, Jokowi akan menentukan sikap publiknya mendukung Ganjar, karena target Jokowi dan PDIP hanya memastikan keikutsertaan Prabowo dalam pilpres, bukan memastikan kemenangan Prabowo.

Pertanyaan berikutnya, apakah Prabowo paham dengan situasi seperti ini? Apakah dia paham kalau dia sedang dimainkan? Saya kira pak Prabowo paham sekali. Sebagai mantan danjen Kopassus dan pemimpin partai selama bertahun-tahun, pasti dia sangat mengerti. Cuma saja sebagai ahli strategi dia menunggu waktu yang tepat untuk bertindak. Karena itu banyak orang berspekulasi bahwa Prabowo akan membuat kejutan menjelang pencalonan. Ada juga yang berspekulasi dia akan menyatakan mendukung Anies di saat-saat genting. Dan bahkan dari info di belakang panggung, pak Prabowo dan Gerindra menjamin pencalonan Anies jadi Presiden jika Demokrat dan AHY mbalelo dan bermanuver.

Karena itu pada momentum ke depan, bisa jadi Prabowo menjadi kunci penting terhadap proses pencalonan presiden tahun 2024. Tinggal dia membuktikan apakah dia sebagai seorang Negarawan atau seorang Pedagang. Kalau pertimbangan kenegarawanan yang mengemuka, dia akan memutuskan sesuatu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan kepentingan bangsa yang lebih besar. Kalau yang mengemuka adalah pertimbangan sebagai seorang pengusaha, maka Prabowo akan memilih bermain aman, berpikir menyelamatkan aset dan keuntungan. Merapat ke yang menang. Semuanya tergantung pada pak Prabowo. Ini kesempatan terakhirnya untuk melakukan hal yang benar dan yang besar yang akan dikenang dalam sejarah bangsa. Menjadi King Maker yang sesungguhnya.

Karena itu pada para pendukung Anies sekarang ini, tak perlu keras-keras dan terlalu sengit dengan pendukung Prabowo, karena kita tidak tahu kemana bandul politik ini bergerak. Karena bisa jadi orang yang kita anggap musuh sekarang menjadi sekutu di masa depan.

Wassalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *