MUHAMMADIYAH MERAWAT AKAL SEHAT DAN MENGHINDARI BERPIKIR FEODAL

Opini1422 Views

Oleh : Moh Naufal Dunggio

Ustadz Kampung dan Ketua LDK PWM DKI Jakarta

 

Perhelatan di Muktamar adalah waktu yang pas untuk merombak tata cara menghidupkan Muhammadiyah di era milenial. Warisan KH. AHMAD DAHLAN untuk merawat akal sehat melalui pengajian-pengajian sehingga membangun sekolah-sekolah di kampung saat itu menjadi bersambung dan berlanjut sampai saat ini. Para generasi pelanjut di Muhammadiyah malah lebih mengembangkan sampai ke tingkat perguruan tinggi.

Ini hebatnya ORMAS yg satu ini. Tiada henti-hentinya dalam membangun akal sehat dengan terbukti perguruan tinggi Muhammadiyah bertebaran hampir di setiap propinsi di Indonesia. Universitas banyak tapi kalau tidak diimbangi dengan pengurus Muhammadiyah yang masih berpikir FEODAL maka akan membebani Muhammadiyah dalam beramar ma’ruf nahi mungkar.

Muktamar harus melahirkan aturan itu. Salah satu ciri memelihara akal sehat adalah dengan perdebatan atau berkelahi otak bukan otot supaya gak jadi dungu. Sebagaimana ciri di perguruan tinggi. Di era sekarang ini Muhammadiyah hindari memilih pengurus yang masih berpikir feodal. Yaitu mereka gak bisa dikritik dan selalu main berada di ZONA AMAN dan HANYA TERIMA UANG SAKU dari Muhammadiyah, kalau mau kritik jangan secara terbuka kayak di medsos dan harus bilhikmah.

Salah satu gaya bilhikmah yakni harus mingkem. Apalagi pada pengurus pusat terlebih pada ketua umum. Sebab dikit lagi ketua umum bisa menjadi Tuhan di organisasinya. Ini era digital. Dari ujung Sabang sampai Merauke tidak salah mengkritik Muhammadiyah melalui digital atau medsos saat ini. Sebab kalau gak begitu para pengurus terutama di pusat akan jadi jumawa karena gak ada orang mengkritik dan itu bisa MEMBEBANI dan MERUGIKAN Muhammadiyah.

 

Seperti kasus kerugian anti gen yang dilakukan PT RUSLAM CEMPAKAPUTIH JAYA (RCJ). Kalau gak dikritik bisa jadi kerugian itu dibebankan ke Muhammadiyah. Bahkan bukan hanya 27M tapi sampai 43M. Nah kalau sampai 43M udah bisa mendirikan kampus mewah yg baru. Ini tanggung jawab PT RUSLAM bukan BPH RSI Cempaka Putih. Kalau ini dibilang HOAK maka silahkan cek ke BPH RSI CEMPUT atau kepimpinan Pusat dan tanya ke ayahanda Busro Muqoddas.

Kami lakukan ini karena kecintaan kami pada organisasi warisan orang tua kami dan para syuhada yg membangun Muhammadiyah. Tidak ada harapan kami supaya diangkat ini itu di Muhammadiyah. Kami sebagai angkatan muda nothing to lose dan akan terus mengawal kasus ini sampai yang bertanggung jawab nginap di hotel prodeo kalau gak mau bertanggung jawab. 43M lho itu banyak sekali. Itu kalau beli obat bius bisa satu Jakarta dibius olehnya.

Mari pilih pengurus yang mau memelihara akal sehat. Di pusat ada Ayahanda Anwar Abbas, ada Ayahanda Busro Moqoddas dan ada yang lebih muda Pak Abdul Mukti. Jangan pilih pengurus yang gemar menempatkan konconya di tempat-tempat yang cuan umat banyak. Sehingga gak mungkin dia gak kebagian dari cuan itu.

Kita hanya cinta Muhammadiyah dengan slogan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan HIDUP-HIDUPKAN MUHAMMADIYAH JANGAN CARI HIDUP DI MUHAMMADIYAH.

Kalau kurang senang dengan tulisan ini cek dan ricek ke ketua Majelis Pembina Kesehatan yalni AGUS SAMSUDIN yang suka dipanggil AGUS SAMbo yg pernah dipanggil polisi. Dia ini yang jadi konconya ketua umum yang diambil dari setelah tidak di DANONE.

Wallahu A’lam …

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *