MENTERI AGAMA CAP TOPI MIRING

Opini1265 Views

Oleh : Moh. Naufal Dunggio
Aktivis dan Ustadz Kampung

Benar-benar di negeri 62 hampir semua menterinya bersama presidennya anti terhadap Islam. Macam-macam ekspresi mereka perlihatkan dalam menunjukkan kebencian kepada Islam. Kalau presidennya selalu dia gembar gemborkan politik identitasnya dan di otaknya yang dungu itu politik identitas itu adalah Islam. Dan menterinya karena sebelum jadi menteri jadi tukang jaga gereja maka dia terusik duduk di samping rektor UIN sang rektor berdzikir terus dengan kalimat SUBHANALLAH dan MASYAALLAH dan ISTIGFAR. Kemudian dia MENAG candain dengan stengah ngeledek bahwa ini rektor atau pimpinan majelis taklim.

Dia menag gerah dan gelisah mendengar ucapan-ucapan dzikir seperti itu. Boleh jadi yang dia suka rektor UIN Prof. Dr. Amani Lubis bersenandung MALAM KUDUS atau mengucapkan HALELUYA karena itu lebih pas karena sesuai dengan kebiasaan dia yang suka jadi tukang jaga gereja.

Keberkahan bagimana yang akan di mdapat rakyat 62 kalau Indonesia punya menteri agama cap topi miring. Mungkin menteri agama seperti ini yang disenangin oleh pangeran kodok seperti dalam cover majalah THE WEEK. Jadi kop lah pangeran kodok bertemu dengan tukang jaga gereja cap topi miring. Dan klop lah sudah penderitaan umat Islam. Orang sekelas Prof. Dr. Amani Lubis aja diledekin dan dilecehkan seperti itu di depan forum resmi bagaimana dengan orang biasa..? Kata-kata, ini rektor atau pimpinan majelis taklim, itu pernyataan yang kurang sopan bagi seorang menteri agama kepada seorang rektor.

Itu pelecehan yang resmi sebagai seorang aparatur negara kepada seorang Rektor UIN. Mungkin kebencian terlalu membludak kepada FPI sehingga Prof Amani Lubis dilecehkan seperti itu karena Prof Amani Lubiskan kakak kandung dari KH. Sobri Lubis sebagai ketua umum FPI.

Yah, kapan ya REZIM Laknat ini berakhir? Dan kapan pula terjadi PEOPLE POWER sebelum negara ini benar-benar hancur bin runtuh? Tak taulah.
Serahkan pada Allah kami ya Allah tak berdaya lagi. Kita jadi bangsa penakut ya Allah.

Wallahu A’lam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *