Oleh : Jhon Sitorus
Tahun 2001, Susilo Bambang Yudhoyono diangkat oleh Presiden Megawati menjadi salah satu anggota kabinetnya. SBY ditugasi memimpin Kementerian Koordinator bidang Politik dan Keamanan kala itu
Kala itu, SBY lumayan loyal kepada Megawati. Tak ada yang menduga bahwa jalan mereka akan berbeda bahkan akan jadi legenda seteru abadi didunia politik Indonesia. Padahal, SBY ibarat “anak pungut” bagi megawati karena telah diangkat menjadi menteri
Manuver SBY lumayan cerdik. Dia diam-diam membentuk kekuatan politik jauh sebelum Pilpres 2004. Babkan di rapat kabinet, tak pernah sekalipun SBY mengaku akan ikut dalam kontestasi Pilpres 2004, apalagi sampai melawan petahana, bu Mega yang pasti akan maju
SBY bahkan mengambil Jusuf Kalla, Menko Kesra kala itu sebagai wakilnya untuk menghabisi Megawati. Alhasil, SBY-JK menang, Bu Mega kalah. SBY melenggang mulus dengan partai barunya, Demokrat
Tahun 2023, bu Mega kembali dikhianati. Kali ini oleh Jokowi dengan tidak mendukung Ganjar Pranowo karena terlanjur menyodorkan anaknya, Gibran Rakabumingraka sebagai wakil Prabowo
Padahal, bu Mega kurang berkorban apa buat SBY dan Jokowi? Jokowi bahkan bagai anak pungut yang ditemukan dikubangan. Diambil, dididik lalu dibesarkan seolah-olah anak sendiri hingga menjadi orang nomor satu di republik ini
Apa yang ingin saya sampaikan? Politik itu selalu penuh dengan pengkhianatan. Tidak ada yang abadi dalam politik, kecuali kepentingan serta usaha mencari oportunitas
Bukan tidak mungkin Jokowi akan dikhianati oleh Prabowo, baik dengan cara kasar dan halus. Ingat, Prabowo adalah orang yang sangat ambisius soal kekuasaan. Darah penguasa mengalir kental didalam tubuhnya hingga ambisinya dikejar disisa hidupnya
Ayahnya Sumitro pernah ambil bagian dalam pemberontakan kepada negara dengan PRRI. Mertuanya Soeharto pernah melakukan kudeta bawah tanah kepada Soekarno dengan dalih Supersemar
Mimpi menjadi presiden sudah tercapai, tetapi posisinya serba dilema. Prabowo ingin menjalin hubungan dengan PDIP dan Bu Mega, tetapi ada Jokowi disisi Prabowo. Rasanya agak berat bagi Prabowo untuk mengembalikan hubungan mereka, kecuali jika terjadi hal-hal luar biasa
Apalagi, Prabowo berharap besar kepada PDIP karena partai inilah pemenang pemilu. Pengaruhnya masih terlalu kuat bagi perpolitikan negeri ini
Prabowo juga pasti risih karena belakangan ini Jokowi seolah-olah berusaha mencampuri urusan kabinet Prabowo. Maka dia tak mau memilih mundur karena Prabowo butuh power menjelang masa transisi pemerintahan
Saya tidak paham apa deal-deal antara Prabowo dan Jokowi dibelakang. Yang jelas, tidak mungkin ada 2 matahari kembar di negara ini
Maka begitu dilantik, Prabowo harus segera membersihkan pengaruh Jokowi di Istana jika ingin pemerintahannya langgeng. Selain urusan menteri, yang paling vital adalah urusan Panglima, Kapolri dan Kepala BIN. Semua ini mesti dipercayakan kepada orang-orang yang bisa dipercaya Prabowo, bukan bekas loyalis Jokowi
Apalagi Jokowi bukan seorang ketua umum partai, rasanya makin sedikit peluang bagi Prabowo untuk memperhitungkan posisi seorang Jokowi. Status Jokowi hanya sebagai mantan presiden dan ayah wakil presiden, Gibran
Tapi analisa saya mengatakan, Jokowi juga sedang menyiapkan strategi wanti-wanti jika seandainya Prabowo melakukan manuver politik yang mengancam Jokowi dan masa depan Gibran
Jokowi juga tak sebodoh itu. Jokowi kita kenal sebagai raja tega. Dia tidak peduli soal orang lain, yang penting urusan keluarga aman apalagi citranya yang merakyat membuat dirinya selalu dipandang positif oleh rakyat
Warga Indonesia, bersiaplah. Kita akan disuguhkan tontonan yang menarik dalam episode berikutnya. Entah siapa yang akan jadi korban dan pelaku penghianatan politik berikutnya.
