Wow, Pemain Spanyol Terima Rp 15,5 Miliar per Orang

News, Olahraga33 Views

New Jersey, PBSN – Pemain Spanyol yang baru saja juara Pildun, langsung bergelimang uang. Bayangkan, satu orang pemain diganjar dengan hadiah Rp 15,5 miliar. Hanya butuh 7 kali menang, 30 hari untuk mengumpulkan pundi-pundi uang sebanyak itu. Dibelikan Koptagul, Kota Pontianak bisa banjir.

Spanyol memilih jalan melelahkan. Mereka lari 90 menit, latihan bertahun-tahun, jungkir balik menghadapi lawan, hingga akhirnya mengalahkan Argentina 1-0 pada final Piala Dunia 2026. Hadiahnya? Bukan sekadar trofi. Rekening mereka mendadak lebih sehat dari laporan keuangan menjelang audit.

FIFA menggelontorkan hadiah sekitar 50 hingga 53,5 juta dolar Amerika atau setara Rp 898 miliar sampai Rp 961 miliar kepada Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF). Tenang, uang itu bukan langsung dilempar dari helikopter ke kepala para pemain. Masuk dulu ke federasi, baru dibagi.

Menurut laporan Dario AS, sekitar 45 persen dialokasikan sebagai bonus pemain. Hasilnya bikin dompet langsung senyum nasional. Dari total sekitar Rp 403 miliar yang dibagikan kepada 26 pemain, masing-masing diperkirakan membawa pulang sekitar 865 ribu dolar Amerika atau setara Rp 15,5 miliar. Sekali lagi, Rp 15,5 miliar!

Jumlah itu cukup untuk membeli rumah, membuka usaha, membantu keluarga, mungkin masih tersisa buat mentraktir satu kampung makan sampedas kepala ikan kakap. Yang jelas, jauh lebih masuk akal dari menghabiskan miliaran rupiah hanya supaya wajah sendiri muncul setiap lima ratus meter di pinggir jalan.

Lucunya, itu baru bonus utama. Belum sponsor. Belum kontrak iklan. Belum kerja sama dengan berbagai merek. Belum kenaikan gaji. Belum nilai transfer yang bisa melonjak seperti mark up proyek.

Di dunia sepak bola, prestasi memang seperti madu. Semua sponsor berdatangan. Di dunia politik, kadang yang datang dulu justru fotografer.

FIFA juga ternyata royal. Tiket pesawat delegasi ditanggung. Hotel dibayar. Konsumsi aman. Bus tim tersedia. Transportasi domestik beres. Bahkan asuransi untuk cedera, kecelakaan, penyakit, hingga perjalanan juga disiapkan. Enak sekali. Pemain tinggal fokus mencetak gol. Tidak perlu sibuk rapat berjam-jam membahas warna spanduk atau posisi kursi paling depan.

Masih kurang? Para pemain juga memperoleh medali emas, cincin spesial dari FIFA, nama mereka masuk buku sejarah, harga pasarnya naik, gajinya ikut terkerek, dan statusnya berubah menjadi legenda hidup.

Ini yang menarik. Sepak bola diam-diam sedang memberi kuliah singkat tentang meritokrasi. Mau kaya? Berprestasilah. Mau terkenal? Menanglah. Mau dihormati? Buktikan kemampuanmu.

Sayangnya, pelajaran ini kadang gagal masuk ke ruang-ruang berpendingin udara. Di sana masih ada spesies langka yang percaya, pencitraan adalah prestasi, konferensi pers adalah solusi, dan slogan adalah pembangunan. Kerjanya sedikit, pidatonya tiga jilid. Prestasinya tipis, tetapi tepuk tangannya disetel pakai pengeras suara.

Nuan bayangkan kalau sistem hadiah Piala Dunia diterapkan di politik. Gaji dan bonus baru cair kalau janji benar-benar terpenuhi. Jalan mulus, bonus turun. Harga pangan stabil, rekening bertambah. Korupsi nol, dapat cincin emas 74kg. Kalau janji meleset? Maaf, cuma dapat medali partisipasi dan sertifikat “Terima Kasih Sudah Berusaha”.

Mungkin setelah itu, rapat tidak lagi penuh presentasi warna-warni. Semua berlomba bekerja karena tahu hadiah datang belakangan, bukan di depan.

Itulah bedanya juara dunia dengan juara pencitraan. Yang satu mengangkat trofi setelah kerja keras bertahun-tahun. Yang satu lagi kadang baru mengangkat tangan sudah merasa layak dipasang baliho satu provinsi.

So, kalau ada bertanya kenapa pemain Spanyol pantas menerima Rp 15,5 miliar per orang, jawabannya sederhana. Mereka tidak menjual mimpi. Mereka menjual bukti. Ternyata, di dunia ini bukti memang jauh lebih mahal dari janji.

 

 

 

Rosadi Jamani