Prancis Diayam Sayur, Spanyol Lolos ke Final

News, Olahraga19 Views

Texas, PBSN – Apes benar, setiap kali prediksi selalu kalah. Pegang Prancis eh malah diayam-sayur Spanyol 2-0. Namanya juga bola, tak ada yang tahu bisa sudah tempur di lapangan.

Stadion AT&T, Arlington, mendadak hening. Ivan Barton, wasit asal El Salvador, meminta semua mengheningkan cipta selama semenit. Bahkan nyamuk yang biasa dengung di telinga penonton ikut diam. Begitu peluit pertama dibunyikan, dunia kembali normal. Maksudnya, kembali tidak normal.

Didier Deschamps menurunkan Ayam Jago Galia. Di seberang, Luis de la Fuente membawa The Matador, pasukan yang hobinya bikin lawan pusing seperti dikejar banteng saat festival San Fermin.

Menit ke-9, Adrien Rabiot menerima kartu kuning. Fans Prancis langsung protes sambil mengangkat baguette ke langit, seolah roti itu bisa mengajukan banding ke FIFA.

Petaka datang pada menit ke-20. Lucas Digne menendang Lamine Yamal di kotak penalti dengan gaya kungfu. Ivan Barton tanpa ragu menunjuk titik putih. Dari tribun terdengar suara, “Woi… ini semifinal, bukan tarkam rebutan kambing!”

Menit ke-22, Mikel Oyarzabal maju sebagai algojo. Goool! 1-0 untuk Spanyol!

Pendukung Spanyol di Indonesia mendadak kesurupan banteng. Ada menanduk pintu rumah, pagar, bahkan dispenser karena dikira bek Prancis. Teriakan mereka membuat satelit bergeser beberapa sentimeter dari orbitnya. Di Paris, ayam jago seperti kehilangan harga diri. Bulu beterbangan sampai Menara Eiffel tampak ingin pindah ke Barcelona. Konon kopi Emmanuel Macron tumpah sebelum sempat diminum.

Prancis mencoba bangkit. Saliba cedera pada menit ke-30 dan diganti Maxence Lacroix. Menit berikutnya Cucurella mendapat kartu kuning. Rambut kribonya tetap tenang, mungkin sudah kebal diterpa drama sepak bola.

Babak pertama selesai. Di ruang ganti, kedua pelatih berubah jadi penceramah. Deschamps berkata, “Jangan mau damai itu indah. Inilah saatnya membuktikan Prancis juara. Malu dengan rakyat Indonesia banyak jagokan kita lho.”

Sementara Luis de la Fuente menimpali, “Kalau sudah unggul jangan cepat puas. Walau di sebelah ngajak damai, tetap waspada. Mereka itu licik, begitu penonton nyantai, bisanya mereka malah ngangkut brankas lagi.” Para pemain bengong. “Bos, ngomong opo toh.” Akhirnya paham dan berteriak, banteng harus menang, merdeka…!

Babak kedua dimulai. Manu Kone dan Desire Doue masuk. Prancis menyerang habis-habisan. Mbappe berlari ke mana-mana sampai rumput stadion diduga ingin meminta cuti.

Menit ke-58 datang bencana kedua. Dani Olmo mengirim umpan cerdik. Pedro Porro menyambarnya sekali sentuh. Goool! Spanyol unggul 2-0!

Tribun Spanyol langsung kehilangan hubungan dengan hukum fisika. Pendukung berubah menjadi kawanan banteng liar. Sofa ditanduk, galon diseruduk, antena televisi ikut ditanduk karena dianggap pemain cadangan Prancis. Teriakan mereka membuat awan bergeser ke negara tetangga. Burung migrasi putar balik. Trump mau memencet tombol rudal pun terkejut.

Sebaliknya, pendukung Prancis mendadak lupa cara berkokok. Ayam-ayam kampus pun tidak bisa operasi lagi, sedih.

Menit ke-61, Lamine Yamal sempat mencetak gol. Fans Spanyol sudah siap keliling kompleks membawa panci. Sayang, bendera offside terangkat. Mereka mendadak berhenti seperti motor kehabisan bensin.

Prancis terus membombardir pertahanan Spanyol. Mbappe berkali-kali mencoba, Doue melepaskan tembakan keras, Ferran Torres nyaris menambah gol lewat sundulan, sementara pergantian pemain terus dilakukan kedua pelatih. Namun gawang Spanyol seperti dijaga keberuntungan yang sedang lembur.

Menit ke-86, Mbappe malah menerima kartu kuning. Wajahnya lebih kusut dari kabel charger di laci.

Peluit panjang berbunyi. Prancis kalah 2-0. Ayam Jago Galia resmi diayam-sayur The Matador. Spanyol melaju ke final dengan kepala tegak. Pendukungnya pulang sambil masih merasa bertanduk. Pendukung Prancis pulang mencari bulu ayam yang sejak gol pertama entah beterbangan sampai ke mana.

Tersisa satu tiket final lagi, akan diperebutkan Argentina vs Inggris, 16 Juli 2026 pukul 02.00 WIB.

 

 

Rosadi Jamani