Osaka, PBSN – Jepang sudah lolos Pildun. Timnas juga sudah lolos Round 4. Sejarah negara ASEAN pertama bisa tembus ke babak itu. Thailand dan Vietnam, maaf ya! Tentu Jepang tak ingin kehilangan muka di hadapan publiknya sendiri. Squad Garuda tentu juga ingin poin sempurna, sekaligus uji kehebatan sebelum tempur di tanah Arab. Pasti seru ni, wak! Siapkan kopi dan pisang gorengnya.
Sore ini, di sebuah negeri tempat Doraemon lahir dan samurai bangkit dari ranjang futon, Timnas akan menantang Jepang dalam laga penutup Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Lokasi, Panasonic Stadium Suita. Waktu, 17.35 WIB. Cuaca? Entah, tapi semoga langit tidak menangis melihat skor akhir.
Jepang, sang raksasa Asia yang sudah berkali-kali main di Piala Dunia dan menolak tua, datang dengan peluang menang 77.6%. Mereka bagaikan dewa sepak bola yang minum sake dari piala emas FIFA. Sementara itu, Indonesia? Cuma dikasih 8.1%. Ya, itu lebih kecil dari kemungkinan hujan di padang pasir. Tapi, siapa peduli? Angka hanyalah ilusi, yang nyata adalah semangat, dan kadang-kadang keberuntungan yang kebetulan nyasar.
Jay Idzes cs baru saja menang lawan China. Iya, China yang katanya bakal jadi superpower dunia. Tapi mereka tetap tak kuasa menahan garuda yang mencakar dengan gol satu-satunya dari Ole Romeny, striker kita yang datang dari Belanda, bukan dari Depok. Kemenangan itu memastikan anak asuh Patric Kluivert lolos ke babak keempat. Lolos, Bung! Itu bukan ecek-ecek. Itu sejarah. Itu lebih hebat dari menemukan Wi-Fi gratis di hutan Kalimantan.
Statistik kita? Epik juga, asal dibaca sambil pejam mata. Dari 9 laga, Indonesia menang 3, seri 3, kalah 3. Simetris seperti nasi kotak pembagian hajatan. Gol? Cuma 9, kebobolan 14. Tapi di balik angka-angka itu ada kisah keberanian, ketegangan, dan doa emak-emak seluruh Nusantara dan jamaah haji di Padang Arafah.
Pemain Jepang yang katanya serem itu ada Wataru Endo (kapten Liverpool), Kubo (eks Real Madrid), dan Kamada (yang kalau pegang bola, bek kita bisa kena vertigo). Tapi Indonesia tak gentar. Kita punya Jay Idzes, tembok yang lebih tebal dari benteng Takeshi. Kita punya Maarten Paes, kiper yang tangannya seperti tentakel Cthulhu. Thom Haye dan Romeny? Mereka ibarat duo maut yang datang dari Eropa buat balas dendam kolonial secara tak langsung.
Strategi kita? 3-5-2 berubah jadi 5-3-2. Itu formasi yang bisa berubah lebih cepat dari mood netizen Tiktok. Kalau nyerang, sayap kita seperti kucing oranye dikasih Red Bull, Walsh dan Verdonk langsung lari kencang, kirim umpan silang, lalu kembali ke pertahanan sebelum musuh sadar mereka sedang diserang.
Di lini tengah, Marselino Ferdinan bermain seperti Socrates yang lahir di Jakarta, berpikir cepat, umpan tajam, dan wajah penuh perenungan seperti habis nonton film dokumenter Korea. Di belakang, Rizky Ridho berjibaku seperti pendekar Madura mempertahankan warung kopi dari invasi franchise besar.
Kemenangan bisa bikin kita naik ke peringkat 110 FIFA. Kekalahan? Turun ke 119. Tapi ranking itu urusan FIFA dan algoritma, bukan urusan kita yang sudah lama tahu bahwa sepak bola adalah filsafat, bukan matematika. Sepak bola adalah seni mengolah harapan, dan kadang-kadang seni menelan pil pahit sambil tetap bernyanyi lagu nasional.
Di tangan Patrick Kluivert, legenda Belanda yang kini jadi dukun strategi kita, Timnas bermain taktis, cepat, dan penuh keinginan hidup. Bukan cuma main bola, mereka sedang menyusun puisi dengan sepatu, menulis takdir di atas rumput sintetis, dan membacakan syair perlawanan kepada negeri sakura.
Sore ini, bukan cuma laga. Ini epik. Ini semesta. Ini Garuda menari di ujung pedang katana. Siapa tahu, di tengah semua ketidakmungkinan, langit bisa retak… dan gol bisa datang dari sudut yang tak terduga.
Rosadi Jamani
