Jakarta, PBSN – Tidur sangat nyenyak tadi malam. Terasa terbang bersama Garuda Muda. Menyingkirkan Thailand rasanya gimana gitu. Luar biasa Buffon dan Ardiansyah cs. Ulasan laganya sudah saya buat tadi malam, kali ini saya mau menyoroti pemain Thailand yang sangat nyebelin, Yotsakorn Burapha. Mari kita berkenalan sama beliau ini sambil seruput kopi tanpa gula, wak!
Kalau sepak bola adalah panggung drama, maka Yotsakorn Burapha pantas dinominasikan sebagai aktor antagonis terbaik semesta AFF U-23 2025. Bukan karena kemampuan tekniknya yang bikin wow, tapi karena kelakuannya yang bikin “ouw!” dari ujung kepala sampai lutut penonton Timnas. Laga semalam di SUGBK jadi bukti nyata bahwa Tuhan memang maha adil, terutama untuk urusan karma instan.
Bayangkan ini, wak! Menit ke-60, stadion masih panas oleh semangat 70 ribu lebih suporter Garuda yang teriak-teriak sampai pita suara putus. Lalu tiba-tiba, datanglah sang Yotsakorn, seperti meteor jahat dalam sinetron FTV, membobol gawang Ardiansyah dengan gaya yang kayaknya dicuri dari game FIFA edisi bajakan.
Belum cukup sampai di situ. Setelah mencetak gol, Yotsakorn tidak memilih selebrasi penuh hormat seperti angkat tangan atau doa khusyuk. Oh tidak, dia malah berputar di depan tribun Indonesia, seperti habis menang tinju lawan semut. Matanya melotot, tangannya mengepal, badannya goyang… apakah ini silat jurus mabuk? Atau dia kira sedang audisi untuk jadi figuran video klip Rhoma Irama? Kita tidak tahu. Yang jelas, 70 ribu kepala mendadak gatal ingin melempar sandal.
Tapi di sinilah filsafat bola menunjukkan keadilannya.
Karena sepak bola adalah karma dalam bentuk 90 menit dan wasit yang suka pura-pura buta. Yotsakorn, si pembuka luka itu, ternyata juga menjadi penjahitnya. Di babak adu penalti, alias kuis tekanan darah nasional, dialah yang mengambil tendangan penentu. Hasilnya, oh Tuhan semesta suporter, bola itu ditahan oleh Ardiansyah seperti menolak lamaran mantan yang dulu selingkuh. Stadion meledak! Sumpah serapah berubah jadi tawa dan tangis bahagia. Di layar besar, wajah Yotsakorn beku. Seperti tokoh utama yang sadar dia baru saja menjadi meme.
Mari kita ulangi, “Kau yang mulai, kau juga yang mengakhiri,” kata Rhoma Irama. Siapa sangka, kalimat dari Raja Dangdut bisa merangkum tragedi klasik ala ASEAN Football. Yotsakorn, si striker 1,84 meter dari Chanthaburi, kini bukan hanya dikenal karena caps-nya di timnas Thailand U23 dan senior, tapi juga sebagai “bapak plot twist” dari semifinal paling absurd di jagat sepak bola Asia Tenggara.
Oh iya, mari kita beri dia tepuk tangan. Bukan karena permainannya hebat, tapi karena keberanian luar biasa untuk tampil nyebelin secara konsisten dari awal sampai akhir pertandingan. Jujur saja, dibutuhkan bakat besar untuk bisa membuat seluruh stadion sepakat, “Ini orang ngeselin banget.”
Namun jangan salah, kita tetap harus hormat. Yotsakorn adalah pemain berbakat. Di usia 20 tahun, dia sudah melanglang buana dari Chonburi, Samut Prakan, PT Prachuap, sampai Hougang United di Singapura. Skill-nya ada. Visi bermainnya oke. Tapi kadang, mulut dan selebrasi lebih cepat dari otak. Itulah yang membuatnya dari pemain biasa menjadi ikon antagonis paling menghibur dalam sejarah perbola-bolaan absurd Asia Tenggara.
Di momen itu, dia tak lagi Yotsakorn Burapha sang striker muda berbakat. Ia adalah pelawak tak sengaja, bintang komedi tragedi yang menciptakan kisah paling absurd di sejarah AFF. Statistik mencatat dia punya 14 caps dan 7 gol untuk Thailand U23, tapi sejarah mencatat dia sebagai pahlawan tidak disengaja yang membuat Timnas kita ke final.
Terima kasih, Yotsakorn. Kau menyebalkan, menjengkelkan, tapi tanpamu, kisah ini tak akan se-epik ini. Kami semua, rakyat Republik Ngakak Indonesia, akan mengenangmu… sebagai musuh bersama yang sukses bikin final terasa seperti surga.
Rosadi Jamani
