TERKAIT BISNIS PUTRA PRESIDEN YANG DINILAI MANFAATKAN PENGARUH KEKUASAAN, RR : KOK NDAK BELAJAR DARI ORDE BARU

News1076 Views
Jakarta – Kaesang Pangarep dinilai manfaatkan privilege anak presiden dalam berbisnis.
Penilaian para aktivis dan intelektual tersebut terungkap dalam diskusi publik bertemakan “Indonesia dalam Belantara Benturan Kepentingan” di PB PMII Jakarta, Jum’at (21/10/22).
Di awal diskusi, panitia memutar potongan video podcast Deddy Corbuzier dengan bintang tamu Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Jokowi.
Selanjutnya, Natalius Pigai yang dikenal sebagai aktivis HAM, mengomentari tayangan video tersebut dengan menyebutkan kalimat “trading in influences.” Atau memperdagangkan pengaruh.
“Itu Gubernur Mesopotamia pernah dihukum gantung karena memperdagangkan pengaruh,” ujar mantan komisioner Komnas HAM ini menuturkan sejarah ribuan tahun lalu seperti dikutip inilah.com, Ahad (23/10/22).
Pigai heran mengapa Presiden Jokowi bisa dengan mudah memerintahkan agar dilakukan proses hukum terhadap mantan Kadivpropam Polri Irjen Ferdy Sambo serta Gubernur Papua Lukas Enembe. Namun tidak memerintahkan proses hukum terhadap anaknya (Kaesang dan Gibran) saat dilaporkan ke KPK.
“Silahkan adik-adik bisa menilai,” kata Pigai.
Padahal, langkah tersebut penting untuk membuktikan benar-tidaknya dugaan tersebut. Bisa jadi, Gibran dan Kaesang justru bersih dari seluruh tuduhan yang dihunjamkan kepadanya.
Sedangkan Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan menilai, istilah “trading influences” yang dicetuskan Pigai, cukup menarik. “Sekarang ini, trading sudah dilakukan terang-terangan. Kalau dulu orang masih tidak berani mengakui melakukannya, tapi kini sudah terang-terangan,” tegas doktor ekonomi lulusan Belanda ini.
Anthony menyindir Kaesang yang blak-blakan akan mengoptimalkan previlegenya sebagai anak Presiden.
Menurutnya, tidak ada di luar negeri atau di mana pun negara yang bermartabat, yang (keluarga pemimpinnya) mengakui secara terang-terangan bahwa mereka akan menikmati privilege.
“Kalau ada di negara maju yang berani seperti begitu, sudah pasti kena delik,” kata Anthony.
Mengingatkan saja, dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedillah Badrun menyerahkan laporan dugaan KKN yang menyeret putra Presiden Jokowi, terkait perusahaan pembakar hutan ke KPK. Di mana, perusahaan tersebut terlibat bisnis dengan presiden. Namun pada Agustus, KPK menghentikannya.
Ubedillah mengungkap fakta-fakta seperti ada kucuran dana dari lembaga pembiayaan yang terkait grup bisnis pembakar hutan itu, nilainya mencapai Rp99 miliar kepada perusahaan yang diduga terafiliasi Kaesang dan Gibran.
Petinggi perusahaan yang dilaporkan ke KPK tersebut diangkat Presiden menjadi Duta Besar di Korea Selatan akhir tahun 2021. Petinggi yang lainnya dari perusahaan yang sama juga diangkat Presiden menjadi Wakil Kepala Otorita IKN pada bulan Maret tahun 2022.
Pada awal Juni 2022, diberitakan bisnis start-up milik Kaesang dan Gibran disuntik dana Rp101 miliar oleh Alpha JWC Ventures dan grup EMTEK. Dalam dua tahun terakhir, total kucuran dana yang diterima bisnis Kaesang yang tercatat publik mencapai Rp200 miliar.
Menyikapi fenomena tersebut, Tokoh Bangsa Rizal Ramli mengatakan bahwa pemerintahan Joko Widodo tidak belajar dari pengalaman masa lalu.
Diapun mencontohkan kondisi saat Orde Baru yang dinilai berhasil melakukan pembangunan di segala bidang namun menjadi rusak tatkala praktek KKN terjadi di lingkungan keluarga Presiden Soeharto.
“KKN dan Nepotisme, itulah yg merusak reputasi dan kinerja positif Orba ! Kok ndak belajar ya, kok ndak kapok ? Baru 8 tahun kuasa sudah jor-joran “Dagang Kekuasaan-nya” . Puluhan perusahaan cangkang hanya jadi sarana ‘Dagang Kekuasaan” . Tragedi,” jelas RR.
(Red/Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *