Jakarta, PBSN – Tidak mudah menjadi organisasi yang telah melewati zaman, generasi, dan perubahan politik tanpa kehilangan jati diri. Tapi itulah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Organisasi profesi guru yang lahir dari semangat kemerdekaan ini kini terus diuji oleh zaman yang kian cepat bergerak. Kritik, cibiran, bahkan hinaan kerap datang dari mereka yang lupa sejarah, atau mungkin tak sempat membacanya.
Namun PGRI tetap berdiri, tetap dicinta, terutama oleh mereka yang memahami makna perjuangan, nilai kebersamaan, dan pentingnya wadah guru dalam memperjuangkan martabat profesi.
Mengapa PGRI Masih Relevan?
PGRI lahir pada 25 November 1945, hanya tiga bulan setelah proklamasi kemerdekaan. Bukan sekadar organisasi profesi, PGRI adalah manifestasi dari semangat kebangsaan para guru. Mereka bukan hanya mengajar, tetapi juga ikut memanggul senjata, tergabung dalam laskar pelajar, demi mempertahankan kemerdekaan.
Kini, 79 tahun kemudian, PGRI terus bertransformasi menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak guru—baik di pusat maupun daerah. Sayangnya, tidak semua guru, terutama generasi muda, mengenal sejarah ini.
Omjay: “Saya Masuk PGRI Tanpa Dipaksa, Tapi Karena Cinta”
Sebagai penulis artikel ini, saya menyampaikan pengalaman pribadi. Saya bergabung dengan PGRI bukan karena kewajiban, tapi karena kesadaran. Saya adalah guru swasta, dan saya merasakan langsung bahwa PGRI hadir untuk semua guru tanpa membeda-bedakan.
“Saya bergabung di PGRI bukan karena dipaksa, tapi karena cinta. PGRI membuka ruang bagi semua guru, bukan hanya ASN. Saya menyaksikan sendiri bagaimana PGRI membantu guru honorer, guru swasta, hingga guru yang terzalimi oleh sistem.”
Saya belajar banyak tentang arti solidaritas, perjuangan, dan pentingnya memiliki wadah yang kuat dalam menyuarakan aspirasi. PGRI bukan hanya seremonial. Ia adalah tempat di mana ide-ide besar pendidikan Indonesia dibicarakan dan diperjuangkan.
Cibiran yang Tak Berdasar
Kritik kepada PGRI sering kali datang dari guru-guru muda yang belum memahami bagaimana organisasi ini bekerja. Mereka bertanya, “Apa sih gunanya ikut PGRI? Mengapa harus bayar iuran?” Namun mereka tak pernah hadir dalam konferensi cabang, tak membaca AD/ART, dan tak terlibat dalam kegiatan organisasi.
Padahal, keberadaan tunjangan profesi guru (TPG), pengangkatan PPPK, serta perlindungan hukum guru dalam banyak kasus adalah hasil dari advokasi panjang PGRI yang tak pernah berhenti.
Pesan Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd: “PGRI Adalah Rumah Besar Semua Guru”
Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, dalam berbagai kesempatan selalu menekankan bahwa PGRI bukan hanya organisasi formal, tetapi rumah besar bagi semua guru tanpa membedakan status atau latar belakang.
“PGRI adalah rumah bersama. Di sini guru ASN, guru honorer, guru swasta, semua punya tempat yang sama. Kita bukan organisasi eksklusif, tapi inklusif. PGRI ada bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk memperjuangkan martabat guru, kualitas pendidikan, dan keadilan dalam kebijakan negara,” tegas Ibu Unifah.
Beliau juga mengingatkan pentingnya regenerasi dan keterlibatan guru-guru muda dalam memperkuat organisasi.
“Kalau guru muda hanya diam dan menonton, maka organisasi ini bisa jadi kaku. Tapi jika mereka turun tangan, menyuarakan ide-ide baru, maka PGRI akan terus relevan dan hidup di hati para guru.”
Saatnya Guru Muda Turun Tangan
Organisasi seperti PGRI tidak sempurna. Tapi tidak ada organisasi yang sempurna tanpa orang-orang yang mau memperbaikinya dari dalam. Jika guru muda menganggap PGRI lamban, jadilah energi perubahan di dalamnya. Jika dinilai ketinggalan zaman, maka bawalah semangat dan teknologi agar ia lebih segar.
Tidak adil jika kita hanya mencerca tanpa pernah mencoba membangun. Sudah saatnya guru muda berhenti menjadi penonton yang menyalahkan panggung. Mari kita isi panggung itu bersama, dan memainkan peran kita dengan semangat juang para guru terdahulu.
PGRI Akan Terus Dicinta
PGRI memang kerap dicerca, dihina, bahkan dianggap tak berguna oleh sebagian kalangan. Tapi ia tak roboh. Karena ia bertumpu pada cinta dan kepercayaan dari para guru yang masih yakin bahwa persatuan adalah kunci kekuatan profesi.
“Jika kamu merasa PGRI belum memberi apa-apa, cobalah bertanya: apa yang sudah aku beri untuk PGRI?” – kalimat ini layak direnungkan.
Di tengah badai kritik dan ujian zaman, PGRI akan tetap berjalan. Karena masih ada guru-guru yang percaya, bahwa tanpa organisasi yang kuat, profesi guru akan mudah dilemahkan. Dan karena itu, PGRI tetaplah organisasi yang dicinta—bukan karena sempurna, tapi karena ia terus berjuang, terus belajar, dan terus membuka diri untuk semua guru Indonesia.
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Guru Blogger Indonesia & Anggota PGRI
