PAKAR SEBUT FOOD ESTATE PRABOWO BERNUANSA MILITERISTIK DAN AGENDA GLOBAL

News265 Views

Jakarta – Pakar ekonomi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Didin S. Damanhuri menegaskan nuansa militeristik dan kesan pemaksaan meliputi proyek food estate yang ditangani Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

“Food Estate era Jokowi ini diserahkan kepada Menteri Pertahanan Prabowo sehingga warna militerisme pertanian terjadi. Dalam pelaksanaannya bersifat pemaksaan mirip tanam paksa zaman Belanda. Begitupun dalam penyelesaian konflik agraria tidak dengan cara-cara demokratis, tapi cenderung mengedepankan penggunaan aparat atau koersif,” ujar Prof Didin seperti dikutip JPNN, Sabtu (25/11/23).

Didin mengatakan, sebenarnya Food Estate merupakan skenario G20 untuk menghadapi krisis pangan dunia.

Indonesia kebagian untuk membangun Food Estate tersebut berbasis korporasi dan tidak melibatkan Petani dalam proses pelaksanannya.

“Hal ini berdampak kepada nasib petani serta lingkungan ekologis yang rusak serta makin memperburuk konflik agraria. Petani tidak dilibatkan dalam membangun food estate tersebut, padahal mereka itulah menjadi tulang punggung produksi nasional padi dan pangan lainnya termasuk tercapainya swasembada di era Orba maupun sempat dicapai saat era reformasi, meski tidak panjang waktunya,” ujarnya lagi.

Sementara, lanjutnya, Food Estate saat ini mengandalkan korporasi besar dengan bentangan lahan yang sangat luas.

Itu terjadi di era Susilo Bambang Yudhoyono di Papua maupun era Jokowi di Kalimantan Tengah dan Sumatera Utara.

“Hal itu berdampak pada kerusakan lingkungan, karena dalam lahan yang sangat luas itu bersifat monokultur dan umumnya melibatkan tanah gambut. Juga berdampak makin menambah parahnya konflik agraria, karena banyak mengambil tanah-tanah adat atas nama Proyek Strategis Nasional,” kata Didin.

Hasilnya pun, lanjut dia, Food Estate ini sangat jauh dari tercapainya swasembada pangan.

Buktinya impor pangan jalan terus. Harusnya swasembada pangan melibatkan petani dengan konsolidasi lahan dan dibangun cooperative farming dan jumah penyuluh yang memadai,” jelas Ketua Dewan Pakar Asprindo (Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia) ini.

(Red/Sumber)