Noel dan Voyurisme Media Kita

Hukrim, News, Politik1404 Views

Jakarta, PBSN – Immanuel Ebenezer, atau akrab dipanggil Noel, pernah menjadi salah satu wajah paling sering muncul di media.

Gayanya yang meledak-ledak, ucapan yang kasar, dan keberaniannya menyerang lawan politik membuatnya menjadi primadona layar kaca.

Ia bukan tokoh karena gagasan, melainkan karena gaduh. Bagi media, Noel adalah “emas”: murah diproduksi, tinggi nilai jual, dan bisa dipanen berulang kali.

Kini Noel kembali menjadi headline. Bukan sebagai narasumber, melainkan sebagai tersangka.

Rabu malam, 20 Agustus 2025, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Wakil Menteri Ketenagakerjaan itu lewat operasi tangkap tangan di Jakarta.

Dugaan kasusnya serius: pemerasan dalam sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Dari tangan Noel, KPK menyita uang tunai dan puluhan kendaraan mewah, mulai dari mobil hingga motor Ducati.

Menurut Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), per Desember 2024 Noel memiliki kekayaan sekitar Rp 17,62 miliar: properti Rp 12,15 miliar, kendaraan Rp 3,34 miliar, kas Rp 2,03 miliar, serta harta bergerak lain Rp 109,5 juta.

Angka-angka ini kini jadi bahan bakar pemberitaan. Media berlomba-lomba menguliti detail, dari jumlah saldo rekening hingga koleksi kendaraan.

Sejak awal, Noel bukanlah sosok yang kokoh secara intelektual ataupun moral. Ia hanyalah penghibur politik yang fasih memainkan amarah.

Namun media, dalam ketagihan populisme, membentangkan karpet merah baginya. Setiap umpatan Noel jadi kutipan, setiap ledakan emosi jadi judul utama.

Media, yang seharusnya mendidik publik dengan wacana berbobot, justru menjadikan Noel sebagai bahan tontonan.

Ia ditawarkan kepada publik sebagai “tokoh alternatif”, padahal substansinya kosong.

Fenomena ini mengingatkan kita pada alegori Plato tentang bayangan di dinding gua: masyarakat terpaku pada ilusi, bukan pada kebenaran.

Noel hanyalah bayangan yang dibesarkan sorot kamera, dan publik pun tertipu oleh siluetnya. Hari ini, ketika Noel dijerat OTT KPK, bayangan itu pecah.

Media pun berbondong-bondong meliput, berpura-pura terkejut dengan sosok yang mereka sendiri besarkan.

Headline demi headline menyalib Noel, seakan-akan ia adalah raksasa yang tumbang. Padahal sejak awal, ia hanyalah boneka yang dipoles media.

Tapi satu hal yang begitu penting adalah bahwa Presiden Prabowo Subianto memang sedang mengusung komitmen antikorupsi. Poin ini penting, dengan kata lain, OTT Noel menegaskan bahwa hukum bisa berjalan meski menyasar pejabat tinggi.

Namun lagi-lagi, media lebih sibuk menyorot drama ketimbang substansi. Kamera memburu ekspresi Noel saat digelandang, membesarkan detail gaya hidup, dan menayangkan spekulasi liar.

Alih-alih menggali akar masalah, mengapa praktik pemerasan sertifikasi bisa terjadi, media memilih jalan pintas: menjadikan Noel komoditas sensasi.

Inilah wajah asli media kita: voyeuristik, rakus drama, gemar memelihara badut.

Mereka yang dulu menyanjung Noel kini berlomba melemparkannya ke jurang. Mereka yang dulu memberi panggung, kini berpesta di atas reruntuhannya.

Fenomena ini bukan sekadar tentang Noel. Ia hanyalah contoh mutakhir dari siklus berulang: media mencetak tokoh karbitan, menobatkannya jadi raja sehari, lalu menyalibnya besok pagi.

Publik dijejali tontonan murahan, nalar publik dirusak, dan demokrasi dikerdilkan. Kebiasaan media melacurkan sensasi bukan tanpa dampak.

Ia melahirkan generasi yang terbiasa mengonsumsi drama, bukan gagasan. Ia menormalkan korupsi sebagai tontonan, bukan tragedi moral.

Ia merusak kepercayaan publik pada institusi, karena yang ditinggalkan hanyalah sinisme.

Kasus Noel memperlihatkan paradoks besar demokrasi kita. Di satu sisi, penegakan hukum berjalan, KPK masih berani menyentuh pejabat tinggi.

Di sisi lain, ruang publik kita tercemar ilusi: media lebih sibuk menayangkan tawa badut daripada memperdebatkan solusi.

Jika dibiarkan, siklus ini hanya akan melahirkan Noel-Noel baru: figur kosong yang dibesarkan kamera, lalu dijatuhkan demi rating.

Setiap kali itu terjadi, yang mati bukan hanya tokoh karbitan tersebut. Yang mati adalah harapan kita akan media yang bermartabat, publik yang cerdas, dan demokrasi yang sehat.

Noel hanyalah satu bab dalam kisah panjang voyeurisme media kita.

Ia naik karena sensasi, tumbang karena korupsi, dan dijadikan martir sensasi oleh media yang sama. Pertanyaannya: sampai kapan kita rela ditipu oleh tontonan murahan ini?

Sebab jika publik terus membiarkan, bukan hanya Noel yang akan hancur. Yang hancur adalah akal sehat bangsa ini, dikubur pelan-pelan oleh tepuk tangan penonton dan sorak kamera.