Meksiko, PBSN – Benar-benar dramatis, tegang atas bawah. Pada akhirnya, Maroko sukses memulangkan Belanda lewat drama adupenalti, 3-2 di Estadio BBVA, Monterrey. Pahlawannya adalah Ismael Saibari, algojo terakhir yang membuat satu negara bersujud syukur. Sementara Belanda harus pulang menyusul Jepang dan Jerman.
Sejak peluit pertama berbunyi, duel ini sudah seperti perang antara couscous melawan keju gouda. Maroko, penghuni peringkat tujuh FIFA, tampil percaya diri menghadapi Belanda yang nangkring di peringkat delapan. Bedanya cuma satu tingkat, tetapi gengsinya setinggi utang negara berkembang. Atlas Lions bermain tenang. Belanda justru langsung menekan seperti debt collector menemukan alamat yang benar.
Menit ke-16, Crysencio Summerville menerima umpan terobosan dan melesat menuju kotak penalti. Bono yang tadi kelihatannya sudah siap ngopi langsung batal seduh. Kopinya masih panas, jantungnya lebih panas. Untung tendangan Summerville melenceng, lalu hakim garis mengangkat bendera offside. Fans Maroko langsung bernapas lega. Ada sujud syukur, ada memeluk karpet, bahkan unta di Sahara konon ikut mengangguk pelan.
Menit ke-23, wasit Wilton Sampaio asal Brasil menghentikan laga untuk cooling break. Pemain minum air putih. Penonton stadion minum apa saja yang dingin. Penonton Indonesia mulai menyerbu kopi dan pisang goreng. Yang sedang ngantor pura-pura membuka Excel, padahal tab sebelah streaming pertandingan. Bos lewat langsung klik Alt+Tab secepat kilat. Inilah kemampuan yang tidak diajarkan FIFA.
Maroko menguasai 56 persen jalannya pertandingan. Belanda memilih serangan balik. Di belakang berdiri Virgil van Dijk, Nathan Aké, dan Jan Paul van Hecke. Mereka bertahan seperti tembok benteng yang dibangun memakai campuran semen, baja, dan janji politik lima tahunan. Ismael Saibari berkali-kali mencoba membongkar pertahanan itu, tetapi hasilnya sama seperti mencari parkiran gratis di pusat kota, teorinya ada, praktiknya nyaris mustahil.
Pemain Maroko yang sehari-hari akrab dengan couscous dan tagine terus menggempur. Bart Verbruggen tampil seperti satpam surga, semua bola ditolak masuk. Di tribun, para noni Belanda yang rambutnya pirang mulai jingkrak-jingkrak. Sementara penonton Indonesia mulai memesan kopi gelas kedua. Babak pertama berakhir tanpa gol. Satu-satunya yang benar-benar menang hanyalah pedagang kopi.
Masuk ruang ganti, Mohamed Ouahbi memberi tausiyah yang isinya lebih panas dari ceramah menjelang pemilu. “Jerman dan Jepang sudah pulang duluan. Kalau bisa Belanda sekalian kalian antar sampai bandara. Jangan kasih tiket fleksibel!”
Ronald Koeman juga mengumpulkan pasukannya. “Main lebih berani. Jangan bikin pendukung Belanda di Indonesia mendadak mengaku saudara jauh dari Maroko.”
Babak kedua dimulai. Stadion berubah menjadi lautan oranye dan putih. Burung migrasi yang kebetulan lewat langsung putar balik. Mereka mengira sedang ada konser musik internasional.
Menit ke-47, Issa Diop menjatuhkan pemain Belanda dan langsung diganjar kartu kuning. Dari tribun terdengar teriakan, “Bang, ini Piala Dunia, bukan tarkam antar-RT!”
Maroko semakin menggila. Ronald Koeman mondar-mandir di pinggir lapangan seperti calon ayah menunggu ruang bersalin. Fans Maroko di Sahara dikabarkan menghentikan aktivitas menggembala kambing demi menatap layar besar di tengah tenda.
Menit ke-52, Achraf Hakimi menerima umpan cantik dan melepaskan tembakan keras. Bart Verbruggen sudah kalah. Bola sudah melewatinya. Seluruh fans Maroko sudah berdiri. Yang di Indonesia sudah melempar bantal ke udara. Tetapi… Duaarrr! Bola menghantam mistar. Satu stadion langsung memegang kepala. Bahkan mistar gawang malam itu lebih banyak menyelamatkan Belanda dari lini belakangnya.
Maroko terus menyerang. Belanda sesekali membalas. Chadi Riad, Issa Diop, Hakimi, dan Noussair Mazraoui membuat pertahanan Atlas Lions serapat antrean orang rebutan sembako. Dua kiper bekerja lembur. Tidak sempat ngopi. Tidak sempat makan bakso. Bahkan notifikasi ponsel pun mungkin mereka abaikan.
Lalu tibalah momen yang membuat seluruh negeri kincir angin mendadak ingin mematikan televisi.
Entah air apa yang diminum Belanda saat jeda. Mungkin campuran espresso, vitamin, dan kuku bima. Serangan balik cepat terjadi. Crysencio Summerville mengirim bola kepada Cody Gakpo. Bola sempat mengenai pemain Maroko, tetapi tetap meluncur deras ke gawang Bono.
Gol! Belanda unggul 1-0
Amsterdam hampir berpesta semalaman. Kincir angin konon berputar lebih cepat karena ikut selebrasi. Di Indonesia ada fans yang salto di ruang tamu sampai dimarahi tetangga. Seorang manajer yang tadinya mau memecat pegawai mendadak membatalkan niat karena sibuk teriak menyambut gol.
Namun sepak bola memang profesinya mempermalukan orang yang selebrasi terlalu cepat. Maroko menaikkan tempo seperti emak-emak mengejar diskon minyak goreng. Virgil van Dijk masih kokoh. Bart Verbruggen refleksnya seperti habis minum gambir sarawak satu dus. Semua bola ditolak.
Tetapi menit-menit akhir selalu punya naskah sendiri. Issa Diop mengirim umpan ke depan gawang. Chemsdine Talbi muncul seperti hantu tagihan akhir bulan. Sundulan kerasnya membuat Verbruggen hanya menjadi penonton VIP.
Gooool! Skor berubah 1-1
Fans Maroko dari bocah sampai aki-aki langsung melompat seperti baru dapat orderan 1000 unta. Sahara malam itu lebih berisik dari pasar pagi. Ronald Koeman membeku. Fans Belanda mendadak diam. Bahkan yang tadi paling keras menyanyi sekarang sibuk menatap rumput seolah mencari jawaban hidup.
Perpanjangan waktu berjalan seperti sinetron yang episodenya tidak mau tamat. Menit ke-97 Soufiane Rahimi tinggal berhadapan dengan Verbruggen. Semua fans Maroko sudah siap teriak sampai terdengar ke Bulan. Tetapi paha Verbruggen menepis bola. Penonton Maroko serempak memegang kepala. Pedagang bakso yang lewat ikut kecewa, padahal tidak tahu aturan offside.
Menjelang akhir extra time, seorang pemain Maroko mengalami benturan hingga pelipisnya berdarah dan harus mengganti jersey. Drama malam itu sudah lengkap. Ada aksi heroik, ada darah, ada harapan, tinggal iklan sirup saja yang belum muncul.
Adu penalti pun menjadi pengadilan terakhir
Teun Koopmeiners sukses. Neil El Aynaoui gagal. Justin Kluivert gagal. Soufiane Rahimi sukses. Wout Weghorst sukses. Chemsdine Talbi sukses. Quinten Timber gagal. Achraf Hakimi juga gagal. Skor tetap menegangkan. Jantung penonton sudah bekerja lembur tanpa uang makan.
Lalu datanglah Ismael Saibari. Ia berjalan menuju titik putih dengan wajah tenang. Mulutnya komat-mait baca doa. Di pundaknya ada harapan jutaan rakyat Maroko. Stadion hening. Bahkan angin pun seperti minta izin lewat.
Tendangan dilepaskan…Gooooool! Maroko menang adu penalti 3-2!
Seketika Atlas Lions berpesta seperti baru menemukan tambang emas. Sahara bergemuruh. Teh mint mungkin tumpah ke mana-mana. Di sisi lain, Belanda resmi menjadi anggota terbaru klub “hampir lolos”. Ronald Koeman hanya bisa menatap langit, mungkin berharap FIFA suatu hari nanti menghapus adu penalti.
Begitulah sepak bola. Ranking FIFA boleh berdekatan. Virgil van Dijk boleh sebesar lemari tiga pintu. Bart Verbruggen boleh menyelamatkan belasan peluang. Tetapi ketika pertandingan masuk adu penalti, semuanya tinggal ditentukan oleh tiga hal: mental baja, doa yang khusyuk, dan satu tendangan Ismael Saibari yang sukses membuat satu negara meloncat kegirangan. Sementara negara satunya mendadak menganggap bola itu benda paling menyebalkan yang pernah diciptakan manusia.
Bravo Maroko. Belanda, tim yang saya favoritkan juara, eh malah tersingkir. Sedihnya.
Rosadi Jamani
