Gedung Disegel, Dapur Mati, Demonstran Bawa Panci

News, Politik, Sosial79 Views

Jakarta, PBSN – Episode ke-19 drama BGN. Tensinya makin panas. Setelah empat orang tikus got gorong-gorong dikandangin Kejagung, Kantor BGN pun disegel warga.

Tanggal 10 Juni 2026 menjadi hari bersejarah. Bukan karena Indonesia juara dunia. Bukan karena mulut ember dua cewek di private jet itu hilang tanpa rimba. Tapi karena kantor BGN di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, disegel secara simbolis oleh Koalisi MBG Watch.

Yang datang bukan cuma aktivis. Ada Transparency International Indonesia, CELIOS, LBH Jakarta, Suara Ibu Peduli, Ibu Berisik, peneliti, dosen, mahasiswa, pedagang, sampai ibu-ibu rumah tangga. Kalau ditambah tukang bakso dan penjual cilok, mungkin sudah bisa membentuk negara baru bernama Republik Kesabaran yang Habis.

Mereka memasang garis kuning-hitam di depan gedung. Pemandangannya mirip lokasi syuting film kriminal. Bedanya, yang dicari bukan pembunuh, melainkan akal sehat yang kabarnya sudah lama menghilang dari peredaran.

Spanduk besar dibentangkan. Tulisannya tidak kaleng-kaleng. “Gedung Ini Kami Segel”, “Audit MBG”, dan yang paling mewakili isi hati rakyat, “Kami Muak! Rombak Total MBG!”

Tidak cukup sampai di situ. Demonstran membawa alat masak dan membagikan makanan kepada pengendara yang lewat. Ini ironi tingkat dewa. Program makan bergizi diprotes sambil bagi-bagi makanan. Seolah rakyat sedang berkata, “Begini lho caranya kasih makan orang tanpa bikin rapat 17 jilid.”

Tuntutan mereka juga tajam. MBG diminta dihentikan sementara minimal 30 hari untuk evaluasi total. Audit menyeluruh dilakukan terhadap tata kelola, pengadaan, mitra SPPG, hingga penggunaan anggaran. Bahkan muncul usulan agar program diubah menjadi bantuan langsung Rp300.000 per bulan per anak. Kalkulator di seluruh Indonesia langsung berkeringat mendengar ide itu.

Kemarahan publik tentu tidak muncul karena kurang hiburan. Kejagung telah menetapkan empat tersangka. Ada Dadan Hindayana selaku mantan Kepala BGN, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung selaku mantan Wakil Kepala BGN, serta Asep Yusuf Somantri yang disebut sebagai orang kepercayaan Sony.

Dugaan kasusnya mulai dari mark-up pengadaan, penunjukan mitra yang tidak transparan, sampai pengadaan motor listrik. Potensi kerugian negara disebut mencapai triliunan rupiah. Angka yang begitu besar sampai mesin penghitung uang mungkin minta cuti tahunan.

Belum selesai urusan tersangka, muncul babak baru bernama “Dapur-Dapur yang Menghilang”.

Pada Maret hingga Mei 2026, jumlah SPPG yang disuspend BGN sempat berkisar antara 1.500 hingga lebih dari 4.000 unit. Laporan internal ke DPR bahkan menyebut angka di atas 4.000. Per akhir April masih ada sekitar 1.720 dapur yang tutup sementara. Pada Mei masih tersisa 1.152 dapur dalam proses pembenahan dari total 4.581 yang pernah dihentikan.

Lalu awal Juni datang seperti bos terakhir dalam permainan video.

Sejak 8 Juni, banyak dapur berhenti beroperasi karena dana operasional disebut belum cair. Data yang beredar menunjukkan sekitar 346 dapur SPPG sempat berhenti pada 8-9 Juni.

Aceh Tamiang mencatat 14 dari 38 dapur berhenti. Batam mengalami puluhan dapur berhenti, termasuk 15 dari 21 di Batam Kota. Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Aceh, DIY, hingga berbagai daerah lain ikut melaporkan kondisi serupa. DIY bahkan mencatat 97 dapur berhenti, dengan 42 di antaranya terkait pencairan dana.

Sementara itu BGN menjelaskan dana sebenarnya sudah dicairkan bertahap sejak 5 Juni dan dilanjutkan 8 Juni. Menurut Kepala BGN Nanik S. Deyang, ini masalah teknis transfer ke virtual account. Bahasa sederhananya, uang dan rekening sedang menjalani hubungan jarak jauh.

Mahasiswa pun ikut turun gunung. BEM UI, mahasiswa IPB, dan berbagai kelompok lain melakukan aksi. Bahkan pada 12 Juni muncul agenda demonstrasi besar bertajuk “Menuju Indonesia Bangkrut” di Bundaran HI. Salah satu tuntutannya adalah menghentikan MBG dan Koperasi Desa Merah Putih, selain meminta harga BBM dan sembako turun.

Meski begitu, program MBG tetap berjalan. Pemerintah menegaskan tidak ada penghentian total. Namun rakyat kini menonton dengan perasaan campur aduk. Awalnya ini program makan bergizi. Sekarang lebih mirip sinetron Maling Berkedok Gizi.

Kalau begini terus, MBG mungkin tidak perlu lagi maskot. Cukup pasang gambar panci, garis kuning, dan tulisan, “Bersambung Lagi Besok.”

 

 

 

 

Rosadi Jamani