Gawat, PLN Akan Melakukan Pemadaman Bergilir

News, Sosial51 Views

Jakarta, PBSN – Tahun 2016, Jepang membuat sebuah film berjudul Survival Family. Film garapan Shinobu Yaguchi itu bercerita tentang satu kejadian yang awalnya tampak sederhana, listrik tiba-tiba hilang. ATM mati. Kereta berhenti. Ponsel menjadi benda purbakala. Kota Tokyo yang modern mendadak lumpuh. Pada akhirnya, satu keluarga terpaksa meninggalkan kota dan bermigrasi ke desa demi bertahan hidup.

Saat itu banyak penonton tertawa. Ceritanya terasa terlalu berlebihan. Namun Juni 2026 ini, sebagian rakyat Indonesia mungkin mulai menontonnya dengan ekspresi yang berbeda.

Sebab ancaman pemadaman bergilir kini bukan lagi cerita layar lebar. Ia mulai menghantui dunia nyata.

Wilayah yang disebut-sebut berpotensi terdampak bukan daerah kecil yang jauh dari peradaban. Yang disebut justru kawasan paling padat dan paling produktif di Indonesia. Jabodetabek. Jawa Barat. Jawa Tengah. Jawa Timur. Hingga Bali.

Nuan bayangkan sebentar. Jakarta yang biasanya terang benderang seperti tidak pernah tidur tiba-tiba bergelap-gelapan. Bekasi mendadak lebih gelap dari masa depan pencari kerja. Bandung kehilangan cahaya yang selama ini menerangi kafe-kafe hingga dini hari.

Kawasan industri Jawa Tengah berhenti berdenyut. Pabrik-pabrik Jawa Timur mendadak sunyi seperti kuburan mesin. Bali yang hidup dari pariwisata harus menjelaskan kepada turis mengapa hotel berbintang tiba-tiba mengandalkan genset. Kalau itu benar-benar terjadi, bukan hanya lampu yang padam. Urat nadi ekonomi ikut tersendat.

Masalahnya terdengar sederhana, batu bara. PLN membutuhkan sekitar 154 juta ton batu bara tahun ini. Namun kontrak yang sudah diamankan baru sekitar 134 juta ton. Artinya terdapat kekurangan sekitar 18 hingga 20 juta ton.

Angka itu mungkin terlihat seperti deretan angka biasa di laporan rapat. Tetapi di dunia nyata, angka itulah yang bisa menentukan apakah jutaan rumah tetap terang atau berubah menjadi adegan film horor.

Ironisnya, semua ini terjadi di negara yang setiap tahun menjual batu bara ke seluruh dunia. Indonesia seperti pemilik depot air terbesar di kota, tetapi keluarganya sendiri antre membawa ember.

Di sisi lain, harga DMO yang dipatok US$70 per ton sejak 2018 dianggap tidak lagi menarik oleh sebagian perusahaan tambang. Sementara harga ekspor bisa mencapai US$84 hingga US$121 per ton.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka peluang kenaikan harga DMO menjadi US$80 hingga US$90 per ton agar pasokan untuk PLN tetap aman. Kalau harga dinaikkan, perusahaan tambang tersenyum. Kalau harga tidak dinaikkan, pasokan bisa seret. PLN berdiri di tengah seperti wasit yang disuruh membela dua tim sekaligus.

Yang membuat publik semakin gelisah adalah ingatan tentang blackout besar di Sumatera bulan lalu masih sangat segar. Memang pemerintah menjelaskan, blackout tersebut terjadi akibat gangguan sistem kelistrikan, bukan karena krisis energi. Tetapi rakyat tentu berhak bertanya.

Bulan lalu Sumatera gelap. Bulan ini Jawa dan Bali diancam pemadaman bergilir. Besok wilayah mana lagi? Belum tentu ini krisis energi.

Tetapi beginilah biasanya sebuah krisis datang. Tidak memakai sirene. Tidak membawa spanduk. Tidak mengirim surat pemberitahuan. Ia datang diam-diam. Diawali satu gangguan. Lalu gangguan berikutnya.

Kemudian muncul kekurangan pasokan. Lalu muncul kebijakan darurat. Sampai akhirnya semua orang baru sadar ketika keadaan sudah telanjur kacau. Mungkin itulah bagian paling tragis dari cerita ini.

Indonesia tidak sedang kekurangan batu bara. Negeri yang dijuluki “Negeri MBG” sedang menghadapi paradoks jauh lebih menakutkan, negeri yang duduk di atas gunung energi, tetapi rakyatnya mulai khawatir menghadapi kegelapan.

Kalau “Survival Family” adalah film fiksi, maka Indonesia hari ini seperti sedang menulis naskah sekuelnya sendiri. Bedanya, yang menjadi pemeran utamanya bukan keluarga di Tokyo. Melainkan 280 juta rakyat yang hanya berharap satu hal sederhana setiap malam, saat saklar ditekan, lampu tetap menyala. Satu-satunya yang tertawa dengan kondisi tersebut, kampung yang sampai hari ini belum dialiri listrik.

“Wah, gawat kalau di Pontianak juga padam listrik, Bang. Susah nak ngopi.”

“Tenang, ngopinya siang hari, wak. Malam, di rumah ngopinya,” ups

 

 

 

Rosadi Jamani