Cory Erin Hardi Pasrah Berhadapan dengan Predator APBD

Hukrim, News75 Views

Jakarta, PBSN – Sungguh malang nasib Cory Erin Hardi. Di tengah parade wajah-wajah koruptor super rakus, sosok perempuan muda itu justru terlihat seperti seseorang tersesat di panggung sandiwara yang terlalu besar untuk dirinya. Saat melangkah keluar dari gedung KPK, tubuhnya dibalut rompi oranye bernomor 88. Kedua tangannya terborgol. Rambut panjangnya terurai hingga dada. Kacamata yang dikenakannya tak mampu menyembunyikan kecemasan menggantung di wajahnya.

Senyum itu hilang. Yang tersisa hanya tatapan pasrah seorang perempuan yang mungkin tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di titik seperti ini.

Cory Erin Hardi, bukan bupati. Bukan kepala dinas. Bukan pejabat yang memegang stempel kekuasaan. Ia hanyalah pegawai pemasaran PT Millenium Solusi Abadi (MSA), seorang marketing yang tugasnya menjual produk dan menjaga relasi bisnis perusahaan.

Namun di negeri yang kadang menjadikan APBD seperti ladang berburu para predator, peran sekecil apa pun bisa terseret masuk ke dalam pusaran yang jauh lebih besar dari dirinya.

Menurut KPK, Cory diduga menyerahkan uang Rp 500 juta secara tunai kepada Abi Nurwardani, Sekretaris Dinas Dikbud Muara Enim, di sebuah hotel di Jakarta pada 6 Juni 2026. Tujuannya disebut untuk “menjaga hubungan baik” agar perusahaan tetap mendapatkan proyek.

Kalimat “menjaga hubungan baik” terdengar begitu sopan. Begitu halus. Begitu santun. Padahal dalam kamus korupsi Indonesia, kalimat itu sering kali berarti sesuatu yang jauh lebih vulgar, memberi makan rakusnya sistem yang tidak pernah kenyang.

Jika benar demikian, Cory mungkin sedang berhadapan dengan mesin yang jauh lebih besar dari dirinya. Sebuah ekosistem yang membuat perusahaan-perusahaan merasa harus membawa sesajen sebelum memasuki hutan birokrasi. Sebuah dunia tempat kualitas barang kadang kalah penting dibanding kualitas kedekatan.

Di ujung rantai makanan itu berdiri para pemangsa APBD. Nama paling mencolok tentu Bupati Muara Enim, Haji Edison, bersama Abi Nurwardani dan Adi Triyadi. Mereka juga telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara yang sama. KPK menyita uang tunai dan rekening bernilai miliaran rupiah.

Sementara itu, PT Millenium Solusi Abadi sendiri meninggalkan jejak digital yang nyaris sunyi. Website perusahaan ada. Resmi. Terdaftar. Menawarkan layanan pengembangan web, aplikasi mobile, dan konsultasi teknologi. Narasinya terdengar modern, penuh semangat inovasi, kualitas premium, dan solusi digital masa depan.

Sayangnya, internet punya sifat kejam. Bertahun-tahun membangun citra perusahaan bisa dikalahkan hanya dalam beberapa hari oleh satu berita korupsi.

Kini ketika nama perusahaan dicari, yang muncul bukan lagi janji transformasi digital atau layanan teknologi. Yang muncul justru berita OTT, suap Rp 500 juta, dan penahanan KPK.

Ironisnya, jejak media sosial perusahaan juga sangat minim. Tidak banyak sorotan publik. Tidak banyak promosi. Tidak banyak keramaian.

Namun ketika kasus korupsi meledak, mendadak seluruh negeri mengenalnya. Begitulah nasib tragis reputasi di Indonesia. Kadang sebuah perusahaan tidak terkenal karena prestasinya, melainkan karena tersandung di halaman depan berita kriminal.

Di tengah cerita itulah Cory berdiri. Diam. Pasrah. Menjadi potret paling manusiawi dari sebuah kasus korupsi. Bukan potret kekuasaan. Bukan potret keserakahan. Melainkan potret seorang perempuan kehilangan senyum. Sementara para predator APBD kembali meninggalkan jejak kerusakan di belakang mereka.

“Kasihan juga ya, Bang. Dia hanya ingin perusahaan tetap eksis. Menyuap terpaksa dilakukan demi memenuhi kerakusan bupati dan anak buahnya.”

“Risiko bermain di proyek APBD memang begitu, wak. Tak nyogok tak bakalan dapat proyek. Mau gimana lagi.

 

 

 

Rosadi Jamani