BRIN NILAI INDONESIA SEBAGAI LABORATORIUM BENCANA

News1078 Views

Jakarta – Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Didi Setiadi menyebut Indonesia sebagai laboratorium bencana.

Pasalnya menurut dia, Indonesia merupakan negara maritim atau kepulauan yang rawan secara geologis, bahkan juga rawan dalam aspek hidrometrologis.

“Dari dulu memang dikenal bahwa wilayah benua maritim merupakan salah satu kunci untuk memahami cuaca atau iklim global,” katanya dalam seperti dikutip Bisnis, Rabu (28/12/22).

Dia menyebut Indonesia merupakan wilayah penghasil hujan terbesar di dunia. Bahkan, panas laten yang dihasilkan hujan tersebut turut menggerakkan siklus global.

Dengan begitu, sambung Didi, wilayah maritim seperti Indonesia sangat mempengaruhi cuaca maupun iklim global dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang.

“Demikian pula pengaruh cuaca dan iklim global itu sangat berasa di Indonesia sehingga wilayah maritim itu merupakan simbol dan kunci untuk memahami perubahan cuaca dan iklim global,” ujar dia.

Sebagaimana diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan status siaga pada sejumlah wilayah mengingat adanya potensi cuaca ekstrem hingga pergantian tahun.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan pihaknya memprediksi hujan lebat hingga cuaca ekstrem bakal terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia hingga 2 Januari 2023.

Menurutnya, dampak yang mungkin terjadi akibat cuaca ekstrem tersebut antara lain volume aliran sungai berpotensi meningkat drastis sehingga dapat mengakibatkan potensi banjir dan banjir bandang.

Selain itu, sambungnya, besar kemungkinan hujan lebat tersebut mengakibatkan potensi tanah longsor, guguran bebatuan, atau erosi tanah, terutama di daerah-daerah dataran tinggi dan lereng-lereng perbukitan dan gunung.

“Yang perlu diwaspadai, potensi hujan lebat hingga sangat lebat bahkan sampai berkembang ekstrem sampai 2 Januari, terjadi di wilayah Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT),” tutur Dwikorita.

Sedangkan untuk wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang intensitasnya lebih rendah dari ekstrem, antara lain Aceh, Bengkulu, Sumatra Barat, Lampung, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Tenggara, Papua Barat, dan Papua.

Adapun BMKG memperkirakan cuaca ekstrem di Indonesia ini baru mereda pada 5 hingga 10 Januari 2023.

(Red/Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *