Giliran Enam Dosen Meng-anu-anu-kan Mahasiswi, Duh Negeriku

Hukrim, Sosial155 Views

Yogyakarta, PBSN – Baru kemarin rakyat Indonesia dibuat mual melihat kasus Kiyai Ashari yang mencoreng dunia pesantren. Orang-orang belum selesai mengepel rasa jijik, eh sekarang kampus ikut tampil seperti wahana horor intelektual. UPN “Veteran” Yogyakarta mendadak terasa bukan universitas, melainkan tempat sebagian dosen gagal membedakan ruang akademik dengan fantasi murahan di kepalanya.

Duh..negeriku,. Kenapa mesti ada beginian sih.

Sebanyak enam dosen resmi dijatuhi sanksi karena terbukti melakukan kekerasan seksual, mulai dari pelecehan verbal sampai kontak fisik terhadap korban. Satu dosen dari Fakultas Teknologi Mineral dan Energi dijatuhi sanksi berat berupa pemecatan karena melakukan kekerasan seksual fisik dengan menyentuh korban. Astaga. Fakultas Teknologi Mineral dan Energi rupanya terlalu sempit, sampai syahwat liar ikut ditambang.

Proses pemecatannya kini masih diajukan ke kementerian karena mekanisme ASN harus lewat pemerintah pusat. Negeri ini memang ajaib. Kalau mahasiswa telat bayar UKT, sistem bergerak cepat seperti debt collector habis minum kopi. Tapi kalau predator kampus mau dipecat, birokrasi mendadak lambat seperti siput habis seminar motivasi.

Keputusan sanksi itu mengacu pada Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 dan PP Nomor 94 Tahun 2021. Lima dosen lain dijatuhi sanksi sedang karena terbukti melakukan pelecehan verbal bernuansa seksual. Empat dosen dinonaktifkan dari kewajiban Tridharma Perguruan Tinggi selama dua tahun sejak keputusan ditetapkan. Mereka juga diwajibkan mengikuti konseling psikologi dengan biaya sendiri. Satu dosen lainnya dinonaktifkan selama satu tahun.

Lucu juga mendengar istilah Tridharma dalam kasus beginian. Pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat. Tinggal tambah satu lagi, pengabdian kepada hawa nafsu receh berkedok candaan kelas. Mahasiswa datang membawa proposal skripsi, pulang membawa trauma dan rasa takut setiap menerima pesan dari dosen pembimbing.

Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta, Mohamad Irhas Effendi mengatakan, kampus berkomitmen menciptakan ruang aman, bermartabat, inklusif, berkeadilan, dan bebas dari segala bentuk kekerasan seksual. Kalimatnya indah sekali. Sangat formal. Sangat cocok dijadikan baliho politik ukuran raksasa sambil di belakangnya mahasiswa sibuk menahan cemas menghadapi dosen bermulut cabul.

Ketua Satgas PPKPT UPN “Veteran” Yogyakarta, Iva Rachmawati mengungkap, dosen yang kini diproses pemecatan sebenarnya sudah dijatuhi sanksi sejak 2023 dan dinonaktifkan akhir Desember 2025. Selama bertahun-tahun predator akademik masih sempat beredar nyaman seperti nyamuk kebal obat semprot.

Menurut hasil pemeriksaan, lima dosen terbukti melakukan pelecehan verbal berupa ucapan bernuansa seksual sebagaimana diatur dalam Pasal 12 ayat (2) huruf c Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024. Nuan bayangkan suasana kelas. Mahasiswa duduk serius mencatat materi, dosen berdiri sambil melontarkan candaan sensual murahan seperti om-om gagal lucu di tongkrongan malam. Mahasiswa tertawa kecil bukan karena lucu, tapi karena takut nilai dihancurkan dan skripsi dipersulit.

Mahasiswa akhirnya geruduk rektorat pada 20 Mei 2026. Gedung dipenuhi sampai lantai tiga. Spanduk dibentang. Kardus dan kertas dibakar. Kembang tujuh rupa ditebar. Itu bukan demo biasa. Itu seperti ritual mengusir jin mesum dari ruang akademik.

Ketua BEM KM UPN “Veteran” Yogyakarta, Muhammad Risyad Hanafi mengungkap, total ada delapan dosen yang diduga melakukan kekerasan seksual. Tiga dari Fakultas Pertanian, satu dari Fakultas Teknologi Mineral dan Energi, dua dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, satu dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan satu belum dikonfirmasi.

Modusnya relasi kuasa. Mahasiswi takut nilai diancam, skripsi dipersulit, penelitian dimacetkan. Kasus ini bahkan disebut sudah terjadi sejak 2013. Tiga belas tahun. Negeri ini memang luar biasa. Setiap Hari Pendidikan Nasional pejabat sibuk pidato tentang “mencerdaskan kehidupan bangsa”, sementara sebagian ruang kampus diam-diam berubah jadi kandang predator berbaju batik dan bergelar akademik panjang.