JELANG RAPAT THE FED, RUPIAH DIPREDIKSI MELEMAH TERHADAP DOLAR AS

Jakarta – Menjelang rapat Bank Sentral Federal Reserve (The Fed) terkait kebijakan suku bunga, nilai tukar rupiah hari ini diprediksi tertekan oleh volatilitas dolar AS.

Kemarin (31/10/22), rupiah mengakhiri perdagangan dengan pelemahan sebesar 0,28 persen atau 43,5 poin ke Rp15.597,5 per dolar AS. Di tengah pelemahan mata uang Garuda, mayoritas mata uang lain di kawasan Asia terpantau ikut turun.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam risetnya memperkirakan dolar AS akan melanjutkan penguatan pada beberapa hari mendatang di tengah antisipasi para trader terhadap kebijakan suku bunga The Fed pada November 2022.

Bank Sentral AS diperkirakan kembali mengerek suku bunga sebesar 75 basis poin.

“Namun pasar juga memperkirakan adanya potensi kebijakan yang tidak terlalu hawkish akibat berkurangnya tekanan inflasi. Dolar dan imbal hasil US Treasury tercatat telah turun dari posisi puncaknya pada Oktober akibat estimasi tersebut,” kata Ibrahim seperti dikutip Bisnis, Selasa (1/11/22).

Dari dalam negeri, survei yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan bahwa inflasi pada Oktober diperkirakan di angka 5,8 persen secara tahunan.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan inflasi September 2022 yang mencapai 5,95 persen yoy.

Adapun untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan rupiah dibuka berfluktuatif. Namun berpotensi melemah di rentan Rp15.570-Rp15.650 per dolar AS.

Mengutip Bloomberg, Selasa (1/11/2022), hari ini pelaku pasar di Asia akan mengamati angka IMP Caixin China setelah rilis data terpisah pada Senin menunjukkan aktivitas pabrik dan jasa negara itu berkontraksi pada Oktober, mengirimkan sinyal negatif di pasar global.

Di pasar mata uang, yen kembali dalam jangkauan level 150 versus dolar. Jepang menghabiskan rekor 6,3 triliun yen atau setara US$42 miliar pada Oktober untuk melawan penurunan tajam yen terhadap dolar, karena mencoba membatasi pergerakan spekulatif yang menambah tekanan pada mata uang.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah acuan global pada pagi ini memperpanjang kerugian sebelum keputusan suku bunga oleh bank sentral.

 

(Red/Sumber)