WARGA ABELI DALAM IMBAU PT KBP CARI TANAHNYA DI LEPO-LEPO

Berita Daerah363 Views

Kendari – Salah seorang warga Kelurahan Abeli Dalam, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) bernama Hasan mempersilahkan PT. Kendari Baruga Pratama (KBP) mencari tanahnya sesuai dengan dokumen yang dimilikinya.

Pasalnya menurut Hasan, tanah yang dimiliki oleh PT KBP beralamat di Desa Lepo-lepo, Kecamatan Mandonga sebagaimana dalam Surat Keterangan Pengolahan Tanah (SKPT) miliknya yang diterbitkan Kepala Desa Lepo-lepo yang bernama Laudu pada tahun 1972.

“PT KBP inikan katanya membeli tanah kepada Ny. Satia seluas 20 hektar. Dan Ny. Satia memiliki tanah tersebut katanya dari orang tuanya yang bernama Lahu. Namun alamat tanah orang tua Ny Satia tersebut (Lahu) berada di Desa Lepo-lepo, Kecamatan Mandonga. Jadi kembali saya mengingatkan kepada PT KBP bahwa silahkan mencari tanahnya di Desa Lepo-lepo, Kecamatan Mandonga seperti keterangan dalam surat tanahnya tersebut, dan jangan mencari dan memaksakan mengambil tanah warisan turun temurun dari orang tua saya terdahulu yang berada di RT 003, RW 001 Kelurahan Abeli Dalam, Kecamatan Puuwatu,” tegas Hasan, Ahad (9/6/24).

Lebih jauh Hasan mengatakan bahwa dirinya bahkan dituduh telah melakukan penyerobotan, melakukan pengrusakan, dan memasuki pekarangan tanpa ijin hingga menggunakan Surat Keterangan Tanah (SKT) berupa (Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah) palsu yang diterbitkan oleh Kepala Lurah Abeli Dalam Yunus, S. Sos pada tahun 2013 lalu.

“Namun faktanya tanah saya tersebut sejak dulu hingga kini masih kami kuasai dan mengolahnya dengan baik. Hanya saja saya dilapor pada Kepolisian dan saya merasa dikriminalisasi oleh sejumlah pihak termasuk Oknum Penyidik Dit Reskrimum Polda Sultra maupun oknum Jaksa Kejari Kendari sehingga saya ditersangkakan,” kesal Hasan.

“Bayangkan saja, PT KBP memiliki alas hak (SKPT) dan saya memiliki alas hak (SPPFBT), kok penanganannya didahulukan Pidana?. Mestinya penanganan kasusnya didahulukan penyelesain secara perdata karena saya dilaporkan terkait penyerobotan, pengrusakan dan memasuki pekarangan tanpa ijin dan itu jelas pedomanya Penyidik maupun Jaksa dalam melakukan penanganan kasus pidana umum yang objeknya berupa tanah,” sambungnya.

Hasan menduga sejumlah oknum APH tersebut telah menabrak sejumlah aturan dalam penanganan tindak pidana umum yang objeknya berupa tanah.

“Kami menduga Oknum APH (Oknum Penyidik dan oknum Jaksa) menabrak sejumlah aturan seperti Peraturan Kapolri (Perkap) Pasal 62 dan 62, Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) RI Nomor 1 Tahun 1956 dan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) RI Nomor 4 Tahun 1980 dan Surat Panduan dalam sistem penuntutan yang dikeluarkan oleh Kejagung Nomor: B- 230/E/Ejp/01/2013. Sehingga atas kinerja oknum APH tersebut patut diduga telah menabrak aturan atau tidak profesional dan ini sangat merugikan saya,” beber Hasan.

Hasan menguraikan bahwa Penerbitan Surat Pernyataan penguasaan Fisik Bidang Tanah (SPPFBT) miliknya tersebut bukan terbit diatas meja atau terbit tanpa peninjauan dan pengukuran oleh pihak berwenang, akan tetapi SPPFBT tersebut terbit melalui beberapa tahap atau mekanisme yang dilalui.

“Surat tanah saya tersebut terbit melalui beberapa tahap persyaratan dan mekanisme yakni, mulai dari peninjauan dan pengukuran oleh Ketua RW 001 (Rusmin) dan RW 002 (Tasrin) hingga peninjauan yang dilakukan oleh Kepala Lurah Abeli Dalam, pak Yunus, S.sos dan disaksikan Batas Tanah terdahulu pak Ande sehingga terbitlah Surat Penguasaan Fisik Bidang Tanah Saya pada tahun 2013,” urai Hasan.

Namun anehnya sebut Hasan, anak dari pemilik surat tanah bernama Ny. Satia bersama PT Kendari Baruga Pratama (PT KBP) datang mengklaim tanah tersebut berdasarkan Surat Keterangan Pengolahan Tanah pada Tahun 1972 yang diterbitkan Kepala Desa Lepo-lepo atan nama Laudu.

Anehnya lagi kata Hasan, Surat Tanahnya mereka tersebut tidak memiliki saksi-saksi, kemudian Batas Tanah tidak sesuai data Fakta Lapangan dan dalam Surat Tanahnya tersebut berada di Desa Lepo-lepo, Kecamatan Mandonga pada tahun 1972.

Sedangkan ternag Hasan, objek tanah berada di RT 003 RW 001 Kelurahan Abeli Dalam saat itu Desa Puuwatu.

“Kok, mereka Satia bersama PT KBP datang mencari dan mengklaim Tanah di Abeli Dalam?. Desa Lepo-lepo kan sekarang menjadi Kelurahan Baruga, silakan cari Tanahnya kalian di alamat Surat kalian. Jangan cari di Abeli Dalam, Kecamatan Puuwatu sini. Sampai kapanpun saya tidak mau tinggalkan Tanah yang menjadi warisan dari orang tua terdahulu kami,” tegas Hasan yang mengingatkan PT. Kendari Baruga Pratama yang kesekian kalinya

“Awalnya yang datang klaim Tanah saya tersebut Ny. Satia katanya dapat dari orang tuanya Lahu kemudian Ny. Satia katanya menjualnya kepada PT. Kendari Baruga Pratama yang Direkturnya Pak Ir. H. Asrun dan anaknya yang anggota DPRD Provinsi Sultra Pak Asrijal Pratama Putra pada tahun 2014 lalu. Namun perlu saya menegaskan kembali disini Surat Tanah Satia ataupun PT Kendari Baruga Pratama terbitan tahun 1972 tersebut di Lepo-lepo bukan di Abeli Dalam. Kan aneh dan lucu mereka mau datang klaim Tanah di Abeli Dalam sini,” tegas Hasan menambahkan.

Untuk diketahui pada tahun 2014, Ir.H. Asrun merupakan Walikota Kendari dan anaknya Asrijal merupakan anggota DPRD Sultra.

Hasan pun menilai hukum tidak berjalan semestinya karena adanya APH yang tidak profesional menjalankan tupoksinya sehingga keadilan tidak dia dapatkan.

Hasan juga mempersilahkan Keluarga Lahu/Satia agar mengantar PT Kendari Baruga Pratama untuk mencari Tanah/Lahannya di Lepo-lepo sesuai dalam surat tanah yang dimilikinya.

“Silakan cari tanah kalian di Lepo-lepo,” pungkasnya.

(Edy/Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *