Minahasa Utara, PBSN – Sebelumnya kita mengenal Agam, pendaki gunung yang mengangkat jenazah warga Brazil dari kawah Gunung Rinjani. Ia pun digelar “Hero of The Year.” Nah, satu lagi muncul seorang pahlawan yang luar biasa. Namanya, Abdul Rahman Agu, ia menyelamatkan seorang anak kecil dari kebakaran kapal penumpang yang lagi heboh sekarang. Asli, saat menonton videonya, saya serinding. Mari simak ulasannya sambil seruput kopi, wak!
Ketika langit Talise cerah, tidak ada yang menyangka bahwa pada pukul 13.30 WITA, hari Minggu, 20 Juli 2025, laut yang tenang itu akan berubah menjadi api. KM Barcelona V.A, sebuah kapal penumpang biasa, tiba-tiba terbakar hebat saat melintas di sekitar Pulau Talise, Minahasa Utara. Tidak ada alarm yang cukup nyaring untuk menandingi jeritan manusia yang terbakar rasa takut. Tidak ada protokol keselamatan yang benar-benar siap ketika maut datang dengan nyala api dan asap pekat yang membumbung ke langit.
Penumpang berhamburan. Melompat ke laut. Menggigil. Teriakan dan doa beradu keras. Tapi di tengah kekacauan yang seperti adegan kiamat kecil itu, berdirilah, atau lebih tepatnya, terapunglah, seorang manusia bernama Abdul Rahman Agu, bukan tokoh film, bukan tentara laut, hanya warga biasa dari Kampung Ternate Baru. Namun hari itu, ia adalah segalanya.
Rambut panjangnya basah menempel di wajah. Di badannya melingkar jaket pelampung yang terlalu besar, mungkin bukan miliknya. Tapi yang ia genggam erat bukan benda, melainkan nyawa, seorang bocah kecil yang menangis kehilangan ibunya. Bocah itu menggigil, menggenggam dada Abdul sekuat tenaga, berteriak menyebut “Mama…” di antara isak dan ombak. Tapi Abdul tidak bertanya siapa ibunya, tidak juga bertanya namanya. Ia hanya memeluk erat dan mengayuh air dengan kaki yang mulai kejang.
Anak itu menangis, mencari ibunya. Namun, Abdul terus menghibur seperti anaknya sendiri. Ia tenang, dan terus menghibur si bocah.
Di tengah laut yang kini terasa seperti tungku neraka, Abdul mengangkat ponsel dan menyalakan siaran langsung. “Tolong lihat kami… Anak-anak harus diselamatkan dulu. Tolong!” Suaranya parau, dadanya naik turun, tapi dari wajahnya terpancar satu hal, cinta tanpa syarat. Ia tidak memamerkan keberanian. Ia hanya ingin dunia tahu, masih ada manusia yang berani bertaruh nyawa untuk orang yang bahkan tak ia kenal.
Video itu viral dalam hitungan menit. Tapi Abdul tidak peduli. Ia masih di sana, di laut yang berapi, memeluk bocah itu erat-erat, seakan tubuhnya sendiri adalah perahu terakhir. Ketika kapal penyelamat mendekat, ia mengangkat anak itu dengan sisa tenaga. Bocah itu menangis saat diraih tangan lain, tapi Abdul tersenyum lirih, lalu tenggelam sebentar karena kelelahan. Ia muncul lagi, terbatuk, lalu berenang menuju seorang ibu yang terseret arus karena pelampungnya miring. Ia peluk lagi. Ia tahan lagi. Ia selamatkan lagi. Sendirian.
Bukan alat canggih yang menyelamatkan mereka. Bukan strategi. Bukan sinyal radar. Tapi satu manusia yang memilih berenang ke arah kobaran, bukan menjauh. Laut pun mengalah. Seolah takluk oleh tekad satu jiwa yang lebih kuat dari arus.
Basarnas datang. Kapal rescue Bima Sena ikut mengevakuasi. Dive resort pun turun tangan. Tapi Abdul sudah selesai menyelamatkan. Selesai menggugah nurani jutaan orang. Ia disebut pahlawan sipil. Dijuluki Aquaman dari Gang Ternate. Tapi semua itu tidak penting.
Yang penting, satu bocah masih hidup. Satu ibu terselamatkan. Satu nama kini hidup abadi di hati bangsa, Abdul Rahman Agu, lelaki biasa yang menjelma perahu bagi mereka yang nyaris tenggelam dalam kematian.
Apa makna dari semua ini? Mungkin bahwa dalam dunia yang makin absurd ini, penyelamat sejati bukan yang memakai seragam resmi, tapi mereka yang tetap manusiawi di tengah kobaran api. Abdul Rahman tidak sedang meniru Captain America. Ia hanya mengikuti satu insting sederhana, jika ada anak menangis di tengah laut, gendonglah. Kalau bisa, sambil live.
Foto Ai, hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
