Gambut Terbakar, Disiram dari Atas, Api Tertawa di Bawah

Pontianak, PBSN – Pagi tadi ribuan warga Pontianak salat istisqa, minta hujan. Semoga saja hujan turun di tengah kabut asap semakin pekat. Saya mau bahas gambut.

Kalian pasti pernah lihat tepung ubi atau tepung singkong dilempar ke api. Api langsung padam. Disemprotkan ke api menyala, mati lagi. Hebat? Iya, wak. Di video memang hebat.

Ada pula pesawat mengambil air dari sungai, lalu byurrr! disiramkan ke hutan terbakar. Sekilas efektif. Tapi itu kalau lahannya bukan gambut.

Kalau gambut, ceritanya lain. Api di atas bisa padam, tetapi di bawah tanah bara masih hidup. Macam maling masuk kolong rumah. Dari luar aman, ternyata di bawah masih ngumpet.

Pembakaran gambut menghasilkan gas berbahaya karena pembakarannya tidak sempurna. Profesor Bambang Hero Saharjo dari IPB menjelaskan fenomena smouldering, yakni bara terbakar perlahan di bawah permukaan. Kalau api di atas sudah hilang, jangan buru-buru bilang selesai. Bisa jadi apinya sedang rapat terbatas di bawah tanah.

Lalu water bombing? BNPB menyebutnya hanya pendukung, bukan solusi utama. Satu helikopter membawa sekitar empat ton air sekali terbang. Tiga helikopter pun hanya mampu menangani sekitar sepuluh meter persegi lahan gambut. BPBD Damkar Riau menyebut metode ini lebih efektif memblokir api permukaan, bukan bara di bawah tanah.

Nah, di sini kita sampai pada pertanyaan agak mengganggu. Dulu ke mana semua program restorasi gambut?

Tahun 2016 pemerintah membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG). Targetnya bukan main-main. Sekitar 2 juta hektare gambut direstorasi sampai 2020 di tujuh provinsi, termasuk Kalbar.

Metodenya juga bukan sekadar seminar sambil minum kopi. Ada rewetting: pembangunan sekat kanal, penimbunan kanal dan sumur bor untuk membasahi kembali gambut.

BRG mencatat intervensi pada kawasan nonberizin mencapai sekitar 834 ribu hektare selama 2016–2020. Setelah itu BRG diperpanjang dan berubah menjadi BRGM, dengan target restorasi gambut 1,2 juta hektare serta rehabilitasi mangrove 600 ribu hektare.

Maka pertanyaannya bukan, “Sumur bor itu hilang semua atau tidak?”

Pertanyaannya lebih sederhana, asih berfungsi atau tidak? Masih dirawat atau tidak? Embungnya masih menyimpan air atau tinggal kenangan? Sekat kanalnya masih bekerja atau sudah jadi monumen proyek?

Sebab kalau setiap kemarau kita kembali sibuk mencari air untuk memadamkan gambut, ada perlu dievaluasi dari sistem pencegahannya.

Sekarang muncul ubi bombing. Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangannya. Sementara Kapolda Kalsel menguji formula tepung dicampur air. Potensinya bukan tepung kering ditabur macam bikin pisang goreng, tetapi gel atau hidrogel yang membantu memadamkan api sekaligus menutup pori-pori gambut. BRIN sendiri menyebut pati singkong punya dasar ilmiah, tetapi efektivitas, keselamatan dan dampak lingkungannya masih perlu diuji.

Ada pula suntik gambut hingga kedalaman dua meter. Uji coba Polda Kalsel bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia menunjukkan suhu tanah turun signifikan dengan radius sekitar satu meter menjadi dingin.

UIN Palangka Raya mengembangkan drone berbasis AI untuk mendeteksi smouldering yang sulit terlihat mata.

Semua bagus. Tetapi jangan sampai teknologi baru terus lahir, sementara teknologi lama lupa dirawat.

Sebab solusi karhutla bukan cuma bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana membuat gambut tidak mudah terbakar.

Sekat kanal harus berfungsi. Sumur bor harus dirawat. Embung harus tersedia airnya. Tata air harus dijaga. Regulasi harus ditegakkan. Perusahaan, pemerintah, masyarakat dan aparat harus bekerja bersama.

Kalau setiap tahun polanya tetap sama, kemarau, gambut kering, terbakar, asap, panik, helikopter, anggaran, padam, lalu tahun depan terbakar lagi, itu bukan solusi.

Itu serial tahunan dengan pemeran yang sama. Rakyat cuma kebagian asapnya.

Jadi, sebelum bikin teknologi baru yang namanya makin keren, mungkin sesekali kita perlu menoleh ke belakang.

Sumur bor yang dulu dibuat masih berfungsi? Embungnya masih ada air? Sekat kanalnya masih bekerja?

Kalau jawabannya tidak jelas, ya pantas rakyat bertanya, duit restorasinya sudah bekerja, atau cuma kenangannya yang masih basah?

 

 

 

Rosadi Jamani